Thursday, 31 January 2013

MENGATASI KONFLIK ANTAR PELAJAR DI DKI JAKARTA



MENGATASI KONFLIK ANTAR PELAJAR
DI DKI JAKARTA
Konflik antar pelajar merupakan salah satu bentuk perilaku negatif yang sangat marak terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta. Permasalahan kecil dapat menyulut pertengkaran individual yang berlanjut menjadi perkelhaian masal dan tak jarang melibatkan penggunaan senjata tajam atau bahkan senjata api. Banyak korban yang berjatuhan, baik karena luka ringan, luka berat, bakan tidak jarang terjadi kematian. (Kelompok BSI, 2009).

Akhir- akhir ini sering terjadi tawuran antar pelajar di DKI Jakarta. "Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, dari Januari hingga September 2012, tercatat ada sembilan kasus tawuran yang melibatkan pelajar. Sebanyak empat kasus terjadi di Jakarta Selatan, dua kasus di Jakarta Timur, dan satu kasus masing-masing terjadi di Jakarta Pusat, Depok, dan Bekasi." (Budiman, 2012).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan konflik atau tawuran pelajar di DKI Jakarta. Faktor keluarga, Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Faktor Sekolah, Sekolah tidak hanya untuk menjadikan para siswa pandai secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Faktor lingkungan, Seorang remaja yang tinggal dilingkungan yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para remaja. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran. (Bungee, 2012; Fikar, 2012; Khoirul 2012; Palupi, 2012).
Perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar yang terlibat perkelahian jelas mengalami dampak cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum yang ada. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain.(Zulkarmaen, 2011).
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi konflik antar  pelajar:
·         Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar.
·         Menghadirkan seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti hadirnya seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar untuk selalu bersikap baik.
·         Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati diri.
·         Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat diwaktu luangnya.
Konflik antar pelajar harus segera diatasi dan di cegah agar tidak terjadi lagi. Banyak pihak yang harus terlibat untuk mengatasi masalah ini. Faktor keluarga, sekolah dan lingkungan sangat mempengaruhi kepribadian seorang pelajar. Tidak hanya keluarga, sekolah, dan lingkungan, Pemerintah juga harus ikut serta dalam mengatasi masalah ini. Dengan berbagai terobosan-terobosan baru dalam hal kegiatan menanggulangi tawuran pelajar antar sekolah secara perlahan akan menciptakan di mana tawuran itu adalah kegiatan bodoh yang sia-sia sehingga tidak layak ikut serta. Diharapkan lama-kelamaan tawuran akan segera punah dari dunia pelajar Indonesia.


 

Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment