Monday, 26 August 2013

DAMPAK KERUSAKAN HULU SUNGAI TERHADAP PERCEPATAN SEDIMENTASI PADA WILAYAH HILIR


DAMPAK KERUSAKAN HULU SUNGAI TERHADAP PERCEPATAN SEDIMENTASI PADA WILAYAH HILIR

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang    
Bagian hulu sungai merupakan daerah tangkapan air paling awal yang berperan menyimpan air untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di dunia. Apabila lahan tempat air tersimpan tersebut sudah terganggu atau mengalami degradasi, maka simpanan air akan berkurang dan mempengaruhi debit sungai di sekitar lahan tersebut berada serta pengaruh selanjutnya akan mengganggu keseimbangan dalam keberlangsungan hidup makhluk hidup yang tinggal di kawasan tersebut. Kerusakan yang timbul paling nyata adalah akan semakin cepat sedimentasi atau penumpukan material akibat erosi pada daerah hilir. Dua penyebab utama terjadinya erosi adalah erosi karena sebab alamiah dan erosi karena aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena proses pembentukan tanah dan proses erosi yang terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Sedang erosi karena kegiatan manusia kebanyakan disebabkan oleh terkelupasnya lapisan tanah bagian atas akibat cara bercocok tanam yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi tanah atau pembangunan yang bersifat merusak kkeadaan fisik tanah (Asdak,1995).  Biasanya akibat yang sering timbul dari proses tersebut adalah terjadinya banjir di bagian hilir sungai.
Sedimen yang sering kita jumpai di dalam sungai, baik terlarut maupun tidak terlarut, adalah merupakan produk dari pelapukan batuan induk yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama perubahan iklim. Hasil pelapukan batuan induk tersebut kita kenal sebagai partikel-partikel tanah (Asdak,1995). Peningkatan muatan sedimen di permukaan sungai mempengaruhi debit suatu sungai. Penumpukan sedimen di dasar sungai menyebabkan debit sungai akan menurun. Penumpukan sedimen yang semakin tinggi berpotensi mengurangi kapasitas tampung sungai terhadap air hujan yang berintensitas besar terutama saat musim hujan. Hasil sedimen tergantung pada besarnya erosi total di daerah aliran air (DAS) dan tergantung pada transpor partikel-partikel tanah yang tererosi tersebut keluar dari daerah tangkapan air DAS, selain itu juga disebabkan oleh variasi karakteristik fisik DAS tersebut (Asdak,1995). Hal ini yang kemudian dapat memicu terjadinya banjir pada waktu musim hujan di bagian hilir sungai. Keadaan ini sudah terjadi di beberapa kawasan hilir sungai ketika musim hujan meskipun dengan intensitas hujan tidak terlalu besar, namun sering menyebabkan banjir di beberapa wilayah kota besar di dunia. Dari masalah-masalah yang timbul tersebut penulis kemudain menarik sebuah judul pada makalah ini, yaitu “Dampak Kerusakan Hulu Sungai Terhadap Percepatan Sedimentasi Pada Wilayah Hilir” 
Makalah  ini ditulis bertujuan untuk mengetahui bagaimana percepatan sedimentasi pada daerah hilir sungai akibat rusaknya hulu sungai. Selain itu juga untuk mengetahui dampak dari sedimentasi diwilayah hilir tersebut. Dengan demikian  kemudian akan bisa ditarik solusi-solusi yang mungkin bisa dilakukan agar sedimentasi di wilayah hilir tidak semakin parah.

1.2   Rumusan Masalah
Adapun batasan-batasan masalah yang akan menjadikan pembahasan pada makalah ini antara lain adalah :
1.      Bagaimana proses pembentukan sedimentasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan dampak yang timbul akibat sedimentasi ? .
2.      Apa yang menyebabkan percepatan sedimentasi pada daerah  hilir sungai ?.
3.      Bagaimana cara mengurangi percepatan sedimentasi sebagai penyebab banjir pada suatu lokasi sungai ? .
1.3  Tujuan
      Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain adalah :
1.      Mengetahui proses pembentukan sedimentasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan dampak yang ditimbulkan dari sedimentasi.
2.      Mengetahui tingkat percepatan sedimentasi akibat kerusakan pada daerah hulu sungai
3.      Mengetahui cara mengurangi masalah sedimentasi pada suatu lokasi sungai.
2. Pembahasan
2.1.Proses Pembentukan Sedimentasi, Faktor yang mempengaruhinya dan dampak yang timbul akibat sedimentasi
Dalam suatu proses sedimentasi, ini diawali dengan masuknya partikel-partikel dan juga zat-zat yang masuk ke sungai dri hulu hingga hilir dan berakhir menjadi sedimen. Sedimen yang dihasilkan oleh proses erosi akan terbawa oleh aliran dan diendapkan pada suatu tempat yang kecepatannya melambat atau terhenti. Proses ini dikenal dengan sedimentasi atau pengendapan. Asdak (2002) dalam Reinnamah (2009) menyatakan bahwa sedimen hasil erosi terjadi sebagai akibat proses pengolahan tanah yang tidak memenuhi kaidah-kaidah konservasi pada daerah tangkapan air di bagian hulu. Kandungan sedimen pada hampir semua sungai meningkat terus karena erosi dari tanah pertanian, kehutanan, konstruksi dan pertambangan. Hasil sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi yang terjadi di daerah tangkapan air yang dapat diukur pada periode waktu dan tempat tertentu. Hal ini biasanya diperoleh dari pengukuran padatan tersuspensi di dalam perairan.
Berdasarkan pada jenis dan ukuran partikel-partikel tanah serta komposisi bahan, sedimen dapat dibagi atas beberapa klasifikasi yaitu gravels (kerikil), medium sand (pasir), silt (lumpur), clay (liat) dan dissolved material (bahan terlarut). Ukuran partikel memiliki hubungan dengan kandungan bahan organik sedimen. Sedimen dengan ukuran partikel halus memiliki kandungan bahan organik yang lebih tinggi dibandingkan dengan sedimen dengan ukuran partikel yang lebih kasar. Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tenang, sehingga memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan organik ke dasar perairan. Pada sedimen kasar, kandungan bahan organik biasanya rendah karena partikel yang halus tidak mengendap. Selain itu, tingginya kadar bahan organik pada sedimen dengan ukuran butir lebih halus disebabkan oleh adanya gaya kohesi (tarik menarik) antara partikel sedimen dengan partikel mineral, pengikatan oleh partikel organik dan pengikatan oleh sekresi lendir organisme (Wood, 1997 dalam Reinnamah, 2009).
Partikel sedimen mempunyai ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kasar sampai halus. Menurut Buchanan (1984) dalam Reinnamah (2009) berdasarkan skala Sedimen terdiri dari beberapa komponen bahkan tidak sedikit sediment yang merupakan pencampuran dari komponen-komponen tersebut. Adapun komponen itu bervariasi, tergantung dari lokasi, kedalaman dan geologi dasar (Forstner dan Wittman, 1983). Pada saat buangan limbah industri masuk ke dalam suatu perairan maka akan terjadi proses pengendapan dalam sedimen. Hal ini menyebabkan konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen meningkat.
 Menurut Umi M dan Agus S (2002) bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan (sedimentasi) ini adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan sungai, karena biasanya pada kelokan sungai terjadi pengurangan energi yang cukup besar. Ukuran material yang diendapkan berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke hilir, energi semakin kecil, material yang diendapkan pun semakin halus.
Dari penjabaran diatas menjelaskan bahwa proses sedimentasi berasal dari partikel-partikel mineral yang terbawa dari hulu sungai kemudian terbawa hingga hilir sungai,dan ketika sampai disana akan mengalami penumpukan. Ketika semakin banyak partikel yang terbawa arus dari hulu maka pembentukan sedimentasi pada wilayah hilir akan semakin cepat.
2.1.1. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses sedimentasi adalah:
a.       Kecepatan Aliran Sungai
Kecepatan aliran maksimal pada tengah alur sungai, bila sungai membelok maka kecepatan maksimal ada pada daerah cut of slope (terjadi erosi). Pengendapan terjadi bila kecepatan sungai menurun atau bahkan hilang.
b.      Gradien / kemiringan lereng sungai
Bila air mengalir dari sungai yang kemiringan lerengnya curam kedataran yang lebih rendah maka keceapatan air berkurang dan tiba-tiba hilang sehingga menyebabkan pengendapan pada dasar sungai.
c.       Bentuk alur sungai
Aliran air akan mengerus bagian tepi dan dasar sungai. Semakin besar gesekan yang terjadi maka air akan mengalir lebih lambat. Sungai yang dalam, sempit, dan permukaan dasar tidak kasar, aliran airnya deras. Sungai yang lebar, dangkal, dan permukaan dasarnya tidak kasar, atau sempit dalam tetapi permukaan dasarnya kasar, aliran airnya lambat.
Dari beberapa faktor tersebut merupakan penjabaran faktor-faktor terbesar yang menimbulkan percepatan sedimentasi akibat terbawanya material-material sungai dan juga sekitar sungai akibat pengikisan dari arus sungai tersebut. Arus sungai merupakan faktor yang utama didalam aktivitas proses erosi yang menyebabkan sedimentasi, namun arus tersebut tidak lepas juga karena kemiringan lereng sungai. Semakin terjal suatu sungai maka erosi akan semakin besar pula.
Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya sedimentasi di muara sungai antara lain: aktivitas gelombang dan pola arus. Aliran sepanjang aliran sungai sebagai dampaknya jumlah sungai ini membawa material sedimen dan limbah yang berasal dari hulu dan sepanjang daerah aliran sungai yang akan diendapkan di muara sungai. Menurut Djojodihardjo (1982) proses pengendapan di muara sungai dipengaruhi oleh pasang arus dan gelombang. Energi gelombang selain berfungsi sebagai komponen pembangkit arus sejajar pantai (longshore current), juga menimbulkan abrasi. Proses sedimentasi dan erosi merupakan dua proses yang terjadi silih berganti dalam jarak yang relatif dekat untuk mencapai keseimbangan dan merupakan bagian dari dinamika alur sungai. Selain itu, Topografi daerah aliran sungai, iklim, jenis dan tekstur tanah, morfometrik sungai, sistem hidrologi serta energi pasang surut di muara sungai juga sangat mempengaruhi sedimentasi.

2.1.2.      Dampak yang ditimbulkan akibat sedimentasi
Kegiatan pembukaan lahan di bagian hulu dan DTA untuk pertanian, pertambangan dan pengembangan permukiman merupakan sumber sedimen dan pencemaran perairan sungai yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Pendangkalan akibat sedimentasi alamiah Membawa beberapa dampak negatif. Dasar di hilir sungai akan meninggi akibat sedimentasi ini. Akibatnya, air tidak mengalir dengan baik sehingga meningkatkan kemungkinan banjir. Ekosistem pesisir juga terancam oleh pendangkalan. Biota-biota perairan dangkal kehilangan habibat. Padahal, biota laut dangkal sumber makanan utama ikan-ikan. Jika kehilangan makanan, populasi ikan menyusut sehingga jumlah tangkapan nelayan berkurang. Bagi pelayaran, dampak pendangkalan berupa menyempitnya alur. Akibatnya, perahu dan kapal semakin terbatas ruang geraknya. Walaupun tidak semua dampak yang ditimbulkan adalah dampak negatif, seperti dalam jangka panjang sedimentasi dalam jutaan tahun kembali akan mengahasilkan mineral yang berguna untuk energy seperti minyak dan gas alam atau seperti pengendapan yang terjadi di sungai, banyak yang menggali dan menambang pasir di darerah sungai karena sedimentsi menyebabkan kualitas pasir menjadi bagus untuk bahan bangunan dan untuk membuiat jalan. Tetapi yang kita lihat selama ini adalah terjadinya abrasi pantai, terlalu banyak organisme yang mati akibat tercemar logam berat, habitat dan ekosistem banyak yang rusak disebabkan pengikisan pantai yang diakibatkan oleh proses sedimentasi ( Ghiffary,2011).
Selain dari dampak yang telas dijelaskan di atas, sedimentasi yang terjadi di suatu perairan dapat berpengaruh antara lain pada pendangkalan dan perubahan bentang alam dasar laut, kesuburan perairan, dan keanekaragaman hayati di salah satu teluk di Indonesia. Sebagai contohnya laporan pengukuran Batimetri di Teluk Buyat tahun 1997 tercatat kedalaman sungai ± 80 meter dan pada pengukuran Batimetri tahun 1999 telah terjadi perubahan kedalaman menjadi ±70 meter. Hal ini menunjukan telah terjadi pendangkalan setebal 10 meter. Hasil pengukuran ini telah mengakibatkan perubahan kontur laut (batimetri) dari tahun 1997 ke tahun 1999. Kondisi ini dipertegas lagi dengan hasil pengukuran pada tahun 2000. Dengan demikian telah terjadi sedimentasi pada area yang cukup luas di perairan atau sungai (Suryatmadjo, 2007)
Soekarno dan Rohmat (2006) menyatakan bahwa dampak dari adanya sedimentasi di Teluk Buyat di mana terjadinya penyebaran lumpur pekat dengan ketebalan antara 5 dan 10 meter menyebabkan kerusakan karang. Luasnya bidang yang tertutup sedimen akibat tailing telah menutupi area produktif perairan Teluk Buyat, dimana area ini adalah area pemijahan bagi biota laut, area estuaria yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) yang kaya. Dampak penimbunan oleh sedimen (sedimentasi) yang terjadi di perairan baik secara langsung maupun tidak berhubungan dengan keberadaaan keanekaragaman hayati. Penimbunan dasar perairan oleh sedimen tailing dapat merusak dan memusnahkan komunitas bentik sehingga dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati.
Dari dampak-dampak yang telah dijabarkan diatas kemudian dapat diidentifikasi, bahwa sebenarnya dampak yang paling besar merupakan dampak-dampak secar negatif, utamanya pada wilayah hilir. Akibat sedimentasi yang mengalami percepatan akan mengganggu ekosistem wilayah pesisir, dan juga bagi masyarakat meberikan kerugian karena semakin seringnya terjadi banjir.

2.2.      Penyebab percepatan sedimentasi pada wilayah hilir sungai
            Proses sedimentasi meliputi erosi, transportasi, pengendapan dan pemadatan dari sedimentasi itu sendiri. Proses tersebut berjalan sangat kompleks,dimulai dari jatuhnya air hujan yang menghasilkan energi kinetik yang merupakan permulaan dari proses erosi. Begitu tanah menjadi partikel halus, lalu menggelinding bersama aliran, sebagian akan tertinggal di atas tanah sedangkan bagian lainnya masuk ke sungai terbawa aliran menjadi angkutan sedimen. Faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi erosi tanah adalah curah hujan, tumbuh-tumbuhan yang menutupi permukaan tanah, jenis tanah dan kemiringan tanah. Karena peranan penting dari dampak tetesan air hujan, maka tumbuhan memberikan perlindungan yang penting terhadap erosi, yaitu dengan menyerap energi jatuhnya air hujan dan biasanya mengurangi ukuran-ukuran dari butir-butir air hujan yang mencapai tanah. Tumbuh-tumbuhan dapat juga memberikan perlindungan mekanis pada tanah terhadap erosi. Karena sedimen merupakan kelanjutan dari proses erosi maka faktor-faktor yang mempengaruhi erosi sedimen juga merupakan faktor yang mempengaruhi sedimen di lahan, tetapi sedimen di sungai masih dipengaruhi pula oleh karakteristik hidrolik sungai, penampang sedimen dan kegiatan gunung berapi. Jumlah sedimen yang terangkut aliran sungai ditentukan oleh rantai erosi pengangkutan sedimen, muka pengangkutan sedimen dan produksi sedimen dipengaruhi oleh keadaan topografi, sifat tanah penutup tanah, laju dan jumlah limpasan permukaan, juga sumber sedimen, sistem pengangkutan, tekstur tanah dan sifat daerah aliran sungai, luas topografi, bentuk dan kemiringan tanah. (Suroso,Ruslin dan Rahmanto.)
            Dari penjelasan diatas disebutkan beberapa penyebab percepatan pembentukan sedimentasi. Namun penyebab yang paling berpengaruh adalah  besarnya erosi yang terjadi pada daerah hulu. Besarnya erosi ini tidak lepas dari besar kecilnya tutupan lahan di wilayah tersebut. Ketika tutupan lahan dalam hal ini vegetasi yang semakin rapat, maka potensi untuk terjadi erosi semakin kecil. Hal ini dikarenakan   vegetasi memiliki peranan yang sangat besar di dalam mempertahankan tanah agar todak mengalami erosi secara besar-besaran, namun akan dilakukan secara perlahan.

2.3. Cara Mengurangi Percepatan Sedimentasi pada Sungai sebagai penyebab banjir.
Pada umumnya, persoalan sumberdaya air berkaitan dengan waktu dan penyebaran aliran air. Sehingga, pengelolaan vegetasi di daerah hulu adalah hal yang paling efektif untuk menurunkan aliran sedimen yang masuk ke dalam perairan. Dengan demikian, harus ada kegiatan yang mendukung kelangsungan pemanfaatan perairan yang berkelanjutan. Pengelolaan vegetasi, telah lama dipercaya dapat mempengaruhi waktu dan penyebaran aliran air. Beberapa pengelola DAS bahkan beranggapan bahwa hutan dapat dipandang sebagai pengatur aliran air (streamflow regulator), artinya bahwa hutan dapat menyimpan air selama musim hujan dan melepaskannya pada musim kemarau. (Asdak,1995) dalam (Suryati,2010) menyebutkan bahwa setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air, dan usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air dengan tujuannya adalah meminimumkan erosi pada suatu lahan yang dapat menyebabkan sedimentasi. Anggapan-anggapan seperti ini oleh banyak pakar hidrologi hutan dianggap lebih didasarkan pada mitos dari pada kenyataan, bahkan di negara yang sudah maju sekalipun. Namun demikian, harus diakui bahwa adanya anggapan tersebut telah mngilhami meluasnya gerakan konservasi air dan tanah di beberapa negara maju seperti Amerika dan Eropa.
Cara yang masih efektif sebenarnya adalah dengan mempertahankan dan melakukan konservasi pada vegetasi di daerah rawan erosi. Karena kerapatan formasi vegetasi yang kuarng rapat dapat mendorong terbentuknya arus berputar yang bersifat meningkatkan erosi. Untuk menurunkan erosi, maka vegetasi haruslah diusahakan serapat mungkin. Selain itu dengan adanya sistem perakaran dari vegetasi tersebut akan mencegah terjadinya tanah longsor, terutama di daerah dengan kemiringan lereng terjal dan di pinggir-pinggir sungai.
            Secara garis besar pencegahan untuk mengurangi besarnya erosi yang menyebabkan sedimentasi adalah sebagai berikut (Asdak,1995).
-          Menghindari praktek bercocok-tanam yang bersifat menurunkan permeabilitas tanah.
-          Mengusahakan agar permukaan tanah sedapat mungkin dilindungi oloeh vegetasi berumput atau semak selama dan serapat mungkin.
-          Menghindari pembalakan hutan.
-          Merncanakan dengan baik pembuatan jalan di daerah rawan erosi/tanah longsor sehingga aliran air permukaan tidak mengalir ke selokan-selokan di tempat yang rawan tersebut.
-          Menerapkan teknik-teknik pengendali erosi di lahan pertanian, dan mengusahakan peningkatan laju infiltrasi.
(Suryati,2010) menberikan pendapat bahwa beberapa program seperti rehabilitasi yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi degradasi lingkungan daerah aliran sungai (DAS) seperti pendangkalan karena peningkatan sedimentasi pada sungai-sungai yang bermuara ke danau atau laut (perairan menggenang) masih kurang berjalan sesuai dengan yang di harapkan karena masih kurangnya pengawasan, pengendalian dan penegakan hukum yang dinilai masih rendah. Oleh karena itu, sebagai salah satu upaya yang dapat mengurangi sedimentasi sungai yaitu dengan adanya program rehabilitasi dan pembersihan kawasan sungai dari sampah haruslah dikembangkan dan dijalankan sesuai aturan yang berlaku.
       Dari berbagai hal yang telah dijabarkan diatas merupakan upaya-upaya untuk mengurangi percepatan sedimentasi. Pokok utama adalah berada pada pengelolaan yang dilakukan pada wilayah hulu. Apabila pada wilayah tersebut pengelolaan dilakukan secara baik dan benar utamanya wilayah hutan, maka erosi tanah yang dihasilkan akan juga sedikit. Yang nantinya juga akan berpenagaruh terhadap besarnya sedimentasi pada wilayah hilir.

3.Penutup
3.1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan dan dengan menjawab tujuan yang ada, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Proses sedimentasi di muara sungai disebabkan oleh pertemuan air laut dan air sungai, sehingga kecepatan air di muara mendekati nol. Proses sedimentasi terjadi diakibatkan karena adanya pengrusakan ekosistem di bagian hulu dari DAS yang berdampak terhadap pengikisan lapisan permukaan tanah (erosi), dan adanya pengikisan tepian sungai karena kecepatan arus dan gelombang sungai yang ada.
2.      Proses terjadinya sedimentasi dimuara sungai sangat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kecepatan vertikal dan kecepatan horizontal, sehingga partikel tersuspensi lebih cepat mengendap secara gravitasi. Proses sedimentasi di muara sungai sangat tergantung dari bahan tersuspensi yang dibawa air sungai, materi tersuspensi air laut, aktivitas gelombang, pola arus, adanya gaya berat (gravitasi) dan juga percepatan arus pertemuan air tawar dan air laut.
3.      Cara mengurangi sedimentasi sungai adalah dengan cara melakukan rehabilitasi  lahan yang ada di sekitar hulu sungai dan pembersihan sampah yang ada di sepanjang sungai tersebut agar sedimentasi pada sungai tersebut berkurang secara cepat atau perlahan-lahan.


3.2.Saran
Kepada pihak pemerintah disarankan untuk melakukan pengerukan pada sungai-sungai di wilayah hilir yang telah megalami pendangkalan sehingga dampak dari sedimentasi tidak semakin parah. Apabila hal itu tidak segera dilakukan, dikhawatirkan akan semakin besar bencana yang ditrimbulkan dari hal tersebut, seperti banjir dan lain sebagianya.

DAFTAR RUJUKAN
Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Djojodihardjo, Harijono. 1982. Diktat Bahan Kuliah Mekanika Fluida. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Ghiffary, Wildan.2011.dampak sedimentasi di daerah pesisir. (online) http://blogs.unpad.ac.id/myawaludin/2011/06/15/dampak-sedimentasi-di-daerah-pesisir/. (Diakses pada tanggal 5 april 2013)
Rahayu dkk. 2009. Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. Bogor: World Agroforestry Centre - Southeast Asia Regional Office. 104 P, Bogor.
Reinnamah, Yohanes. 2009. Pengaruh sedimentasi terhadap tingkat kelulushidupan vegetasi yang terdapat di sekitar daerah aliran sungai(DAS) Oesapa Kecil. Kupang: Fakultas Perikanan UKAW.
Soekarno dan Rohmat. 2006. Kajian Koefisien Limpasan Hujan Cekungan Kecil Berdasarkan Model Infiltrasi Empirik DAS. (Online) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1302/1/sg.pdf. (Diakses pada tanggal 5 april 2013 )
Suryati, Vivin. 2010. Laporan Hidrologi Teknik. Makassar: Faperta UNHAS.
Suryatmadjo, Hatma. 2007. Metode Pengukuran Debit Aliran. (Online) http://mayong.staff.ugm.ac.id/site/?page_id=110. (Diakses pada tanggal 5 april 2013 )
Suroso, M. Ruslin Anwar dan Mohammad Candra Rahmanto. Tanpa tahun.studi pengaruh sedimentasi kali brantas terhadap kapasitas dan usia rencana waduk sutami malang.(Online)
Umi M dan Agus S. 2002. Pengantar Kimia dan Sedimen Dasar Laut. Jakarta: Badan Riset Kelautan Dan Perikanan.


Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment