Monday, 26 August 2013

DAMPAK MOBILITAS PENDUDUK TERHADAP KESEMPATAN KERJA

DAMPAK MOBILITAS PENDUDUK TERHADAP KESEMPATAN KERJA

1.   Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
Negara menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, Negara memiliki dua pengertian berikut. Pertama, Negara adalah organisasi di suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati rakyatnya. Kedua, Negara merupakan  kelompok sosial yang menduduki suatu wilayah atau daerah tertentu yang diorganisir di bawah lembaga politik dan  pemerintah yang efektif, mempunyai suatu  kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menetukan tujuan nasionalnya. Seperti yang di ungkapkan Laski dalam Al-Hakim (2012:45) yang mengungkapkan bahwa: “Negara adalahsuatu masyarakat yang diintegrasikan karena memiliki wewenang yang bersifat memaksa terhadap individu atau kelompok yang merupakan bagian dari pada masyarakat”. Dari pengertian diatas, salah satu unsur suatu negara adalah adanya masyarakat atau sekelompok manusia yang tinggal di suatu wilayah.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memilki potensi yang berbeda-beda. Adanya perbedaan penduduk dan tata geografis suatu daerah akan menimbulkan corak dan aktivitasnya. Topologi, iklim dan tanah pada suatu wilayah juga berpengaruh terhadap kebiasaan hidup di wilayah tersebut seiring dengan perkembangan kebudayaan dan kemampuan manusia fundamental yang semakin bertamabah dan berubah sesuai perkembangan zaman.
Penduduk atau  masyarakat merupakan sekelompok manusia yang menempati  suatu wilayah atau negara  dikatakan sekelompok manusia yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain. Dengan adanya interaksi tersebut, penduduk tidak terlepas dari lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Dari lingkungan  tersebut manusia dapat memanpaatkan bagian-bagian lingkungan baik abiotik maupun biotik. Komponen abiotik yaitu komponen yang tidak hidup yang dapat menunjang kehidupan suatu ekosistem.Menurut Irawan (2010:28), komponen biotik dari suatu ekosistem dapat meliputi senyawa dari elemen anorganik misalnya tanah, air, kalsium, oksigen, karbonat, fosfat, dan berbagai ikatan senyawa organik. Selain itu, juga ada faktor­-faktor fisik yang terlibat misalnya uap air, angin, dan radiasi matahari. Sedangkan yang dimaksud dengan komponen biotik merupakan komponen yang hidup pada ekosistem. Komponen biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup baik flora maupun fauna.
Manusia memilki berbagai kebutuhan baik kebutuhan material maupun primer dan kebutuhan lain yang lebih tinggi. Dari kebutuhan tersebut manusia sangant bergantung pada keadaan alam atau geografis. Mereka juga mencari mata pencaharian atau pekerjaan yang dapat menunjuang kebutuhan mereka. Dengan adanya perbedaan kondisi geografis di setiap darah akan menimbulkan aktivitas manusia yang berupa mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk merupakan perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain baik secara menetap maupun tidak menetap yang kembali ke tempat asal.
Dari adanya mobilitas penduduk tersebut berpengaruh terhadap pertambahan penduduk di suatu daerah. Adanya mobilitas penduduk yang memilki tujuan yang sama yaitu  untuk memenuhi kebutuhan, maka hal tersebut berdampak pada kesempatan kerja. Dimana setiap masyarakat yang melakukan mobilitas tersebut mengakibtkan adanya persaingan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah dengan judul, “ Dampak Mobilitas penduduk terhadap kesempatan kerja”.
           
1.2 Rumusan Masalah                              
Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahan pada makalah ini sebagai berikut:
1.      Mengapa kota besar memiliki daya tarik mobilitas penduduk yang tinggi?
2.      Dampak apa sajakah yang di timbulakan dari mobilitas penduduk terhadap kesempatan kerja?
3.      Bagaimana upaya penanggulangan  dampak mobilitas penduduk terhadap kesempatan kerja?



1.3 Tujuan                                                 
Bedasarkan permasalahan yang telah dijelaskan  diatas, maka tujuan penulisan dari makalah  ini adalah:
1.    Untuk mengetahui  daya tarik kota yang menyebabkan adanya mobilitas penduduk.
2.    Untuk mengetahui  dampak yang ditimbulkan dari mobilitas penduduk terhadap kesempatan kerja.
3.    Untuk mengetahui  bagaimana upaya penanggulangan dampak mobilitas penduduk terhadap kesempatan kerja.


2. Pembahasan
2.1 Mobilitas Penduduk
2.1.1 Pengertian
Mobilitas penduduk merupakan pergerakan penduduk yang meliputi perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain baik untuk selamanya atau menetap maupun tidak menetap. Mobilitas penduduk biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa di penuhi di daerah asal. Adanya mobilitas penduduk ini akanmempengaruhi pertambahan penduduk di wilayah yang di tuju. Mobilitas pendudk di lakuakn dari suatu tempat ke tempat lain yang di batasi oleh wilayah administratif.  Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Budijanto (1992:47) yang menyatakan bahwa “Mobilitas penduduk merupakan perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain baik secara menetap maupun tidak menetap yang di lakukan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat di penuhi di daerah asal”.
Hal serupa juga di ungkapkan oleh Mantra, (1978) dalam Mantra (2011: 172): yang mengungkapkanbahwa:
Mobilitas penduduk di bedakan antara dua yakni mobilitas vertikal dan horizontal. Mobilitas penduduk vertikal dapat di ilustrasikan ketika seseorang mengalami penaikan kedudukan dalam pekerjaan atau di kenal dengan kenaikan pangkat. Sedangkan yang di kenal dengan mobilitas secara horizontal seperti yang akan dibahas yaitu perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan batas wilayah yang dapat di lihat dari batas administratif.

2.1.2 Faktor Pendorong Mobilitas Penduduk        
Faktor ekonomi merupakan salah satu faktor yang dikaitkan dengan terjadinya mobilitas penduduk,karena faktor ini mendorong masyarakat untuk dapat mencukupi kebutuhan mereka. Maka dengan adanya tuntutan tersebut, masyarakat melakukan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu, ketimpangan ekonomi yang terjadi di desa dan perkotaan mendorong masyarakat untuk melakuakan mobilitas atau perpindahan, kerena di daerah yang mereka tinggali tidak mampu lagi untuk menyediakan apa yang mereka butuhkan. Sesuai dengan pertumbuhan penduduk desa yang semakin bertambah dan hal tersebut tidak sesuai dengan tersedianya lapangan pekerjaan. Maka dari itu mereka memilih untuk melakukan mobilitas penduduk. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Todaro dalam Mantra (1985:18) mengungkapkan bahwa “motif utama seseorang melakukan migrasi adalah ekonomi”.
Selain itu, Mantra (2011: 178) juga menyimpulkan bahwa:
Ada beberapa teori yang mengatakan mengapa seseorang mengambil keputusan melakukan mobilitas, diantaranya adalah teori kebutuhan dan stress (need and stress). Setiap individu mempunyai kebutuhan yang perlu dipenuhi. Kebutuhan tersebut dapat berupa kebutuhan ekonomi, sosial, politik dan psikologi. Apabila kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi, terjadilah stres. Faktor ekonomi dapat disebut sebagai faktor yang paling mendasari terjadinya stress yang menyebabkan adanya mobilitas penduduk.

Ketidakseimbangan antara pertumbuhan penduduk dan lapangan pekerjaan di daerah pedesaan, membuat para penduduk memilih untuk melakuakan mobilitas untuk mendapatkan pekerjaan demi mencukupi kehidupan. Mata pencaharian di daerah pedesaan adalah mayoritas bertani dan berkebun. Jadi masyarakat yang tidak memiliki ladang untuk di olah, maka mereka di pekerjaan oleh pemilik ladang. Namun hal tersebut hanya pada musim-musim tertentu, sehingga tidak dapat mencukupi kehidupan.



Hal di atas sesuai pendapat yang di kemukakan  Effendi (1992:1) dalam Rahayu (Tanpa tahun: 3) yang menyatakan bahwa:
pertumbuhan penduduk di pedesaan lebih cepat dari pada pertumbuhan kesempatan kerja, maka bagi mereka yang sebagian besar baru masuk angkatan kerja menemui kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam situasi seperti ini kebanyakan penduduk pergi keluar desa terutama ke kota untuk mencari pekerjaan tetap atau sementara.

Dari pernyataan di atas, dapat di ketahui apabila penduduktidak memilki ladang dan pertambahan penduduk semakin meningkat, maka penduduk tidak akanmendapatkan penghasilan dan tidak semua pemilik ladang memperkerjakan masyarakat setempat, karena kebanyakan dari mereka mengolah ladangnya sendiri.Kurangnya lapangan kerja di daerah asal tersebut menyebabkan  masyarakat desa berbondong-bondong melakukan mobilitas ke kota dengan tujuan untuk mendapatkan pekerjaan dengan bekal pengalaman dan latar belakang pendidikan yang kurang.
Adanya ketimpangan pembangunan desa dengan kota telah mendorong penduduk desa untuk melakukan perpindahan ke daerah perkotaan. Karena mereka meyakini kota besar dengan segala fasilitas yang ada mampu mencukupi kebutuhan mereka. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang di ungkapkan Suprapti(1990:17)yang menyatakan bahwa : “Pembangunan fisik kota besar seperti Jakarta pada dasawarsa terakhir cukup pesat. Kota Jakarta makin menunjang statusnya sebagai ibu kota negara”.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan kota besar seperti Jakarta dengan segala fasilitas yang ada mampu menarik para migran untuk melakukan perpindahan. Hal tersebut dilakukan karena mereka mengaangkap daerah perkotaan dengan segala fasilitas yang ada mampu memenuhi kebutuhan dari masyarakat yang tidak bisa di dapatkan di daerah asal.
Kekurangan untuk memenuhi kebutuhan di daerah asal, membuat para migran memilih untuk melakukan mobilitas atau perpindahan. Hal itu dikarenakan anggapan mereka yangmenganggap di daerah lain mereka akan mendapatkan penghasilan yang lebih untuk memenuhi kebutuhan mereka.Oleh karena itu, daerah sasaran para migran adalah daerah yang dapat menyediakan kebutuhan salah satunya adalah Jakarta. Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian mampu menghipnotis para migran dengan segala fasilitas yang ada. Kota besar seperti Jakarta yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan sangatlah membutuhkan tenaga ahli atau Sumber Daya Manusia yang handal demi pembangunan kota, selain itu juga kota besar membutuhkan bantuan dari tenaga di sektor informal demi tercapainya pembangunan kota dan menunjang kehidupan masyarakat perkotaan. Seperti kuli bangunan, pedagang kaki lima, pembantu rumah tangga, pengemudi dan lain-lain.
Pendapat itu sebagaimana dikemukakan oleh Suprapti (1990:17) yang mengungkapkan sebagai berikut.
Kota Jakarta memerlukan tenaga pemikir yang berpendidikan formal cukup memadai. Namun di lain pihak kota Jakarta juga membutuhkan tenaga di sektor informal yang turut menunjang kehidupan masyarakat kota, yang menuntut keterampilan khusus seperti tukang bangunan, pengemudi, tukang kayu dan sebgainya.

Dari pendapat di atas, maka dapat di ketaui sektor informal mendorong para migran untuk melakukan perpindahan karena dengan sector informal, masyarakat dapat mendapatkan pekerjaan tanpa harus mengandalkan ijazah. Maka dengan berbekal keahlian dalam bidang mereka dengan latar belakang pendidkan yang rendah, dengan modal nekad dan keyakinan mereka meninggalkan daerah asal mereka dan bermigrasi ke kota besar. Seperti halnya di ungkapkan Suprapti (1990:17) yang menyatakan bahwa “Kesempatan kerja di sektor informal inilah yang umumnya merupakan daya tarik para migran untuk pergi ke kota”. 
Selain itu, adanya mobilitas penduduk musiman atau non permanen berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah penduduk di kota. Karena ikatan kekeluargaan dan hubungan yang baik antara warga desa akan menjalin adanya komunikasi dengan penduduk desa yang bekerja di kota, ketika warga desa yang bekerja di kota pulang ke kampung halaman maka akan memberikan informasi tentang kehidupan di kota. Hal tersebut membuat mereka tertarik untuk melakukan hal yang sama.
Silaban (1980:61-65) dalam Suprapti (1990:17)menyimpulkan bahwa:
Penduduk migran beranggapan, bahwa pembangunan yang pesat di kota Jakarta akan memberi kesempatan kerja. Mereka tertarik untuk mengadu nasib ke kota karena informasi yang di peroleh dari kerabat atau kenalan tentang kemudahan mencari pekerjaan dan upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan dari daerah asal.

Suprapti (1990:18) menyatakan “Selain  mencari kerja juga mencari popualritas karena dengan bekerja di kota, mereka dapat lebih cepat maju dan mendapatkan posisi yang terpandang di kampung halaman. Mereka menjadi bahan omongan di kampung halaman dan dapat menarik masyarakat desa untuk mengikuti jejak para migran ke kota”.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan faktor ekonomi merupakan faktor yang mendorong adanya mobilitas penduduk yang dikaitkan pada kurangnya lapangan pekerjaan di derah asal dan kota besar merupakan faktor yang menarik para migran untuk melakukan mobilitas atau perpindahan.
Selain itu, ada faktor luar Budijanto(1992:48) mengungkapkan: “Faktor pendorong adanya migrasi adalah salah satunya bencana alam seperti banjir, longsor, letusan gunging berapi, wabah penyakit dan sebagainya”.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan faktor dari luar seperti bencana alam juga dapat mempengaruhi terjadinya mobilitas penduduk.Penduduk yang mengalami bencana akan mencari tempat yang lebih aman atau mencari daerah lain yang dapat di tempati, karena daerah asal sudah tidak layak untuk di tempati akibatkan dari bencana yang terjadi.

2.2 Dampak Dari Mobilitas Penduduk
Perpindahan dari desa ke kota juga dapat lebih di spesifikan lagi menjadi urbanisasi yang merupakan pergerakan atau perpindahan penduduk yang hanya di batasi dari desa ke kota. Budijanto (1992: 56-57) menyebutkan bahwa mobilitas penduduk dapat berdampak pada:

A.    Daerah Asal (Desa)
Mobilitas penduduk dapat berdampak pada daerah asal yakni berkurangnya penduduk yang berkaitan dengan berkurangnya tenaga kerja, kurangnya perkembangan desa, pengelolaan lahan yang tidak teratur dan berkurangnya modal desa. 

Dari pendapat tersebut di atas maka dapat diketahui dampak yang di timbulkan dari mobilitas penduduk bagi daerah asal yakni berkurangnya perkembangan di daerah asal, yang sebabkan oleh penduduk yang berpindah ke daerah perkotaan karena menuntut ilmu atau mencari pekerjaan sehingga ketika pulang ke desa kebanyakan dari mereka tidak mengembangkan ilmunya, bahkan kebanyakan dari mereka memilih untuk menjadi warga kota dan ikut berpartisipasi mengembangkan kota sehingga di daerah asal atau desa kekurangan Sumber Daya Manusia yang mengakibatkan pembanguanan desa terbengkalai.
Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Rahayu (Tanpa tahun: 3). Alasannya antara lain adalah untuk melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi, mengikuti orang tua, suami atau istrinya dan sebagainya.
Selain itu, tanah pertanian ataupun perkebunan yang di tinggalkan penduduk yang berpindah ke kota akan terbengkalai, karena kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk berdagang di daerah perkotaan karena dengan pekerjaan tersebut mereka mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Hal tersebut berpengaruh pada produksi desa yang terhambat bahkan tidak berjalan. Denagn tidak terurusnya lahan di pedesaan tersebut, modal desa akan berkurang dan dapat mengganggu pembangunann desa.Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang di kemukakan Mantra (1994) dalam Rahayu (Tanpa tahun: 3)yang mengungkapkan bahwa:“Tingginya minat penduduk yang terserap dalam ekonomi kota melalui sektor informal karena pada kenyataannya sektor informal dianggap mampu memberikan kontribusi pendapatan yang lebihtinggi dibandingkan dengan sektor pertanian”.

B. Daerah Yang Di Datangi (kota)    

Menurut Budijanto (1992:57) mobilitas penduduk dapat berdampak pada Keadaan sosial yang mengkibatkan ketegangan sosial, maraknya pengangguran, demoralisasi atau maraknya kriminalitas dan pertambahan penduduk.
Mobilitas penduduk dapat berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Karena adanya perbedaan sifat dan watak dari masyarakat desa dengan kota yang menyebabkan adanya pertikaian yang dapat berakibat pada perkelahian. Seperti yang di ungkapkan Budijanto (1992: 57) yang menyatakan bahwa “Orang desa dan orang kota mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda. Orang desa bersifat kekeluargaan dan gotong royong, sedang orang kota bersifat ekonomis dan individualistis”.
Pertambahan penduduk kota akibat adanya mobilitas penduduk juga berakibat adanya pemukiman kumuh atau slum area. Karena tujuan mereka untuk mencari pekerjaan dan dapat mencukupi kehidupan mereka dan dapat memnatu keluarga di desa. Maka dari itu, mereka lebih memilih untuk tinggal sederhana dan berkumpul dengan penduduk yang berasal dari daerah yang sama yang memiliki tujuan yang sama. Pemukiman kumuh ini menjadikan daerah kota menjadi tidak indah dan dapat merusak citra kota. Pendapat ini sebagaimana di ungkapkan oleh Budijanto (1992: 57) yang menyatakan bahwa: “Pertambahan penduduk di kota yang di akibatkan adanya mobilitas penduduk tersebut berdampak pada adanya daerah-daerah kotor ataupun perumahan liar yang di kenal dengan perumahan kumuh atau slume area. Ketertiban dan kebersiahan kota terganggu”.
Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa perpindahan penduduk dapat mempengaruhi pertambahan penduduk di daerah yang di tuju.Maka pertambahan penduduk tersebut dapat mempengaruhi tersedianya lapanngan pekerjaan. Hadirnya para migran ke kota yang selalu bertambah setiap harinya dengan tujuan yang sama yaitu untuk mencari pekerjaan dapat menimbulkan persaingan antara penduduk pendatang dengan penduduk asli. Dengan demikian pertambahan penduduk yang makin signifikan ini tidak seimbang dengan tersedianya lapangan pekerjaan.
Pendapat di atas sebagaimana Suharto (2010) yang menyimpulkan bahwa:

…Tingginya pertumbuhan penduduk diperkotaan disatu pihak dan lemahnya peningkatan infrastruktur sosial ekonomi dilain pihak menimbulkan permasalahan yang kompleks. Ketersediaan lapangan kerja semakin menjadi tidak seimbang dengan membengkaknya pencari kerja. Demikian juga pemukiman liar dan perkampungan kumuh dengan segala dampak negatif  yang ditimbulkannya semakin menjamur, seperti tumbuh suburnya  kegiatan disektor informal, rendahnya pendapatan sebagian besar masyarakat dan tingginya angka pengangguran....

Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa kota besar yang di yakini penduduk yang melakukan migrasi dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk mendapat pekerjaan. Bahkan dapat menimbulkan dampak-dampak yang negatif. Maraknya kriminalitas dan bertambahnya angka pengangguran menjadi akibat dari tidak tersedianya lapangan kerja.
Mengingat banyaknya tenaga kerja yang memiliki latar belakang pendidikan rendah dan kurang terlatih, hal ini menyebabkan pengangguran di kota. Mereka mengalami kesulitan pindah pekerjaan atau enggan pulang ke desa karena mereka gengsi dan lebih memilih untuk tinggal. Dari tujuan yang sama dari para migran dan persaingan dengan penduduk asli kota, sehingga penduduk yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah akan mudah tersisihkan dan menjadi pengangguran di kota. Hal tersebut sebagimana di ungkapkan Budijanto (1992:57) yang menyatakan bahwa:
Mengingat jumlah tenaga yang tidak terlatih atau terdidik. Pada umumnya penduduk dari desa memiliki tingkat pendidikan rendah. Bila mereka ke kota menjadi buruh kasar, karena tidak terlatih untuk suatau pekerjaan khusus. Hal ini dapat menimbulkan pengangguran di kota bila mereka mengalami kesulitan pindah pekerjaan atau enggan pulang ke desa.

Maraknya pengangguran tersebut berdampak pada tindakan kriminalitas yang terjadi di kota. Banyaknya masyarakat desa yang ada di kota yang tidak memilki pekerjaan akan mengakibatkan mereka tidak memiliki penghasilan bahkan tidak memilki uang untuk kembali ke kampung halaman. Hal tersebut mengundang adanya tindakan kriminalitas yang mungkin saja di lakukan oleh masyarakat desa yang ada di kota demi mempertahankan hidup di kota. Kriminalitas tersebut dapat berupa pencurian, penculikan, penipuan dan lain-lain. Budijanto (1992:57) menyatakan bahwa “ Pengangguran yang terjadi di kota mengakibatkan adanya tindakan kejahatan atau asusila …”

2.3 Penanggulangan Dampak Mobilitas Penduduk.
Untuk mengatasi dampak dari mobilitas penduduk tersebut, dapat di lakukan cara-cara tertentu seperti yang di kemukakan Budijanto (1992:57-58) yakni dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       Program Pembangunan Desa.
Program ini dilakukan untuk tercapainya pembangunan desa sekaligus memperluas lapangan kerja.
b.      Penyebaran pembangunan hingga ke pelosok.
Ini berarti pembangunan desa harus secara merata.
c.       Hubungan antara desa dengan kota di perlancar.
Untuk keperluan ini jalur lalu lintas dan komunikasi antara desa dan kota diperbaiki.
d.      Meningkatkan fasilitas keperluan hidup di desa.
Usaha ini dapat di lakukan dengan cara membangun sekolah, balai kesehatan, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Dari pendapat di atas, dampak mobilitas penduduk tersebut dapat di atasi oleh pemerintah dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan fasilitas yang ada di desa. Peningkatan lapangan pekerjaan dapat dilakukan dengan membangun pabrik-pabrik kecil, industry pertanian, dan lain sebagainya. Maka untuk mencapai program tersebut, di perlukan Sumber Daya Manusia yang terlatih dan memilki pemahaman yang dapat mendukung dalam proses pembangunan desa. Maka dari itu, peningkatan mutu pendidikan sangat di perlukan guna membantu program pembangunan desa tersebut.Dengan demikian, peningkatan fasilitas seperti pendidikan dan lembaga pelatihan khusus di perlukan untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang mendukung program pemeintah untuk mengurangi dampak mobilitas penduduk.
Dengan demikian usaha ini dapat menjadi disentralisai industri. Sehingga penduduk desa tidak perlu pergi melakukan mobilitas ke kota. Pembangunan di desa tersebut harus dilakukan secara merata sehingga tidak terdapat perbedaan. Dengan demikian semua desa diupayakan dapat menyerap tenaga kerja di desanya masing-masing.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa adanya hubungan yang baik antara desa kota dapta membantu program pembangunan desa. Hubungan tersebut bergantung pada akomodasi dan komunikasi yang baik antara desa dengan kota. Oleh sebab itu, upaya yang harus dilakukan dengan memperbaiki infrastruktur seperti jalan agar distribusi hasil pertanian ataupun industri di desa akan mudah untuk tersalurkan. Sehingga akan menambah penghasilan dan modal desa.


3. Penutup
3.1 Simpulan
Dari paparan di atas dapat di simpulakan bahwa mobilitas penduduk merupakan kegiatan penduduk yang berupa pergerakan atau perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah yang lain, yang biasanya di batasi oleh wilayah administratif. Perpindahan penduduk biasanya dilandasi beberapa faktor.Faktor ekonomi di anggap sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap mobilitas penduduk. Kebutuhan dari masyarakat yang menyangkut ekonomi membuat mereka melakukan perpindahan. Kurangnya lapangan pekerjaan di desa mendorongmasyarakat untuk melakukan mobilitas. Ketimpangan pembangunan desa dan kota yang lebih mengedepankan pembangunan di kota menjadi faktor yang menambah pengaruh masyarakat desa untuk melakukan mobilitas. Dari banyaknya penduduk yang melakuakn mobilitas ke kota dengan tujuan yang sama, maka daerah perkotaan menjadi padat dan mengalami pertambahan pendudukyang mengakibatkan adanya pemukiman kumuh atau slum area. Pertumbuhan tersebut akan berdampak pada kesempatan kerja, karena adanya persaingan antara masyarakat desa yang melakukan mobilitas dengan tujuan yang sama dan masyarakat lokal yang sama-sama mencari pekerjaan.

3.2  Saran
Mobilitas penduduk yang di dorong oleh faktor untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang tidak dapat terpenuhi di daerah asal disebabkan oleh tidak meratanya pembangunan antara desa dan kota. Untuk mengatasi hal tersebut, Sebaiknya pemerintah perlu melakukan pemerataan pembangunan disetiap daerah agar pelaksanaan ekonomi disetiap wilayah lebih merata. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Seharusnya pemerintah lebih bisa melakukan pemerataan pembangunan sehingga kemajuan disetiap daerah akan lebih merata dan tingkat mobilitas masyarakat ke daerah lain akan semakin berkurang. Jika tidak dilakukan hal tersebut, maka mobilitas penduduk akan terus terjadi karena tidak ada tindak lanjut dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa.
Selain itu, perlu adanya kesadaran masyarakat untuk mengembangkan desa mereka dan memanfaatkan fasilitas yang di berikan pemerintah. Dengan pemanfaatan tersebut, masyarakat tidak perlu bergantung pada kota besar dengan mengembangkan ide masyarakat desa dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat yang lain dengan fasilitas dan modal yang dari  pemerintah. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka fasilitas serta modal yang di berikan pemerintah tidak akan berguna dan modal dari pemerintah tidak akan dapat di kembalikan. Hal tersebut dapat berdampak pada enggannya pemerintah untuk memberikan modal untuk selanjutnya.
















Daftar Rujukan
Al-Hakim, Suparlan, dkk.2012. Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Konteks Indonesia.Malang: Universitas Negeri Malang
Budijanto., dan Ruja, Nyoman. 1992. Geografi Sosial. Malang: Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Malang
Irawan, Zoer’aini Djamal. 2010. Prinsip-Prinsip Ekologi Ekosistem dan Lingkungannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Mantra, Ida Bagoes. 2011. Demografi Umum. Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Rahayu, Sri Maria. Tanpa tahun.Remitan dan Dampaknya dalam Kehidupan Masyarakat Desa Cabawan Kecamatan Margadana Tegal - Jawa Tengah (Dimensi Ekonomi, Sosial, dan Budaya).(Online), (http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=Remitan+dan+Dampaknya+dalam+Kehidupan+Masyarakat+Desa+Cabawan+Kecamatan+Margadana+Tegal+Jawa+Tengah.pdf&source=web&cd=4&cad=rja&ved=0CE4QFjAD&url=http%3A%2F%2Fojs.unud.ac.id%2Findex.php%2Fpiramida%2Farticle%2FviewFile%2F2977%2F2135&ei=wmSTUa7KEYTsrAfqqoDwAQ&usg=AFQjCNGXtVcZfRItZxl5HnyuY_Yq9zYpg&bvm=bv.46471029,d.bmk), diakses 15 April 2013

Suharto, Yusuf. 2010. Index Jurnal Pengaruh Mobilitas Penduduk Terhadap Kesempatan Kerja di Kawasan Perkotaan. (Online), (http://library.um.ac.id/majalah/printmajalah1.php/44577.html), diakses 15 April 2013
Suprapti. 1990. Adaptasi Migran Musiman Terhadap Lingkungan Tempat Tinggalnya (Daerah Khusus Ibukota Jakarta). Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.





Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment