Monday, 26 August 2013

PEMANFAATAN CITRA SATELIT LANDSAT SKALA 1:50.000
UNTUK STUDI EVALUASI TINGKAT EROSI PADA LAHAN
1.    Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kondisi yang beraneka ragam. Kondisi yang beraneka ragam ini tentunya sangat memerlukan interaksi timbal balik antara penggunanya. Dalam hal ini manusia merupakan faktor yang penting khususnya dalam pelestarian lingkungan hidup. Manusia merupakan pengguna yang bebas memanfaatkan sumberdaya alam. Dalam pemanfaatan sumberdaya alam, manusia tentunya harus siap menerima segala resiko dari kesalahan pemanfaatkan tersebut.
Dewasa ini, kesalahan dalam pemanfaatan sumberdaya alam di Indonesia sangat sering terjadi akibat minimnya pengetahuan maupun kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Mereka bebas memanfaatkan tanpa memperdulikan nilai pelestariaannya. Hal ini yang menjadi keprihatinan khususnya masyarakat Indonesia mengingat bahwa Indonesia merupakan negara terkaya akan sumberdaya alamnya.
Seiring dengan keberagaman sumberdaya alam di negara Indonesia, proses-proses geomorfologi disetiap kepulauannya pun juga sangat beragam. Dari keberagaman inilah tentunya banyak hal yang sangat perlu dikaji khususnya dalam ilmu kegeografian. Salah satu proses geomorfologi yang menjadi fenomena dan sering terjadi di Indonesia yaitu erosi. Erosi merupakan salah satu proses geomorfologi yang sering terjadi di Indonesia. Proses ini disebabkan oleh berbagai faktor. Erosi merupakan peristiwa yang sering berdampak negatif bagi masyarakat. Seperti halnya erosi tanah akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas lahan yang meliputi kurangnya ketersediaan air, nutrisi, bahan organik, dan menghambat kedalaman perakaran.
Menurut Utomo (2000) besar tingkat erosi di Indonesia mencapai 173 ha/th. Berdasarkan besarnya tingat erosi tersebut maka perlu adanya suatu upaya guna pengendalian tingkat erosi. Dalam hal ini salah satu upaya dalam pengendalian yakni pemetaan daerah-daerah yang berpotensi erosi. Peta merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mempermudah kegiatan manusia dalam pencarian suatu daerah. Seiring berkembangnya zaman, maka semakin jelaslah keberadaan peta sangatlah penting. Semakin pentingnya keberadaan peta menyebabkan banyak pakar geografi melakukan riset untuk menemukan inovasi-inovasi dalam perkembangan peta. Hingga terciptalah suatu citra satelit yang sangat beragam dengan memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri.
Citra satelit merupakan salah satu perkembangan dari peta yang kian merambah dalam ilmu SIG. Citra satelit merupakan gambar dari hasil penginderaan jauh yang diperoleh menggunakan satelit yang mengorbitkan ke angkasa. Banyak satelit yang digunakan untuk mengamati objek-objek dipermukaan bumi yang disesuaikan dengan informasi tutupan lahan yang dibutuhkan untuk berbagai bidang aplikasi, seperti aplikasi bidang pertanian, kehutanan, dan kelautan. Salah satu citra diantaranya yaitu citra satelit Landsat. Citra satelit jenis inilah yang akan menjadi fokus kajian dalam pengevaluasi lahan terhadap daerah yang berpotensi erosi. 

1.2 Rumusan Masalah
Adapun pokok permasalahan yang akan menjadi kajian lanjut dalam pembahasan makalah ini adalah :
1.    Apa penyebab dan dampak terjadinya erosi ?
2.    Mengapa sangat diperlukan untuk mengetahui daerah yang berpotensi terhadap erosi?
3.    Bagaimana caramengevaluasi daerah potensi erosi dengan citra satelit Landsat skala 1:50.000?

1.3 Tujuan
Berkaitan dengan permasalahan di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.    Untuk mengetahui penyebab terjadinya erosi.
2.    Untuk mengetahui penyebab sangat diperlukannya mengetahui daerah yang  berpotensi terhadap erosi.
3.    Untuk mengetahui cara mengevaluasi daerah potensi erosi dengan citra satelit Landsat skala 1:50.000.


2. Pembahasan
2.1. Penyebab serta Dampak Terjadinya Erosi
Erosi merupakan proses pelepasan dan terangkutnya material bumi oleh gerakan air atau angin kemudian diikuti dengan pengendapan material yang terangkut di tempat lain. Erosi tidak terjadi begitu saja melainkan ada penyebabnya. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dijelaskan oleh Suryani (2013) dimana erosi terjadi karena beberapa faktor penyebab diantaranya :
1. Iklim
Iklim dapat mempengaruhi erosi karena menentukan indeks erosifitas hujan. Selain itu, komponen iklim yaitu curah hujan dapat mempengaruhi laju erosifitas secara terus menerus sesuai intensitas hujan yang terjadi. Karena hujan berperan terhadap erosi tanah melalui tenaga penglepasan dari percikan hujan. Selain hujan faktor ikim iklim lainnya yang berpengaruh terhadap erosi tanah yaitu temperatur dan suhu.
2. Tanah
Tanah beserta sifat-sifatnya dapat menentukan besar kecilnya laju pengikisan (erosi) dan dinyatakan sebagai faktor erodibilitas tanah (kepekaan tanah terhadap erosi atau ketahanan tanah terhadap adanya erosi). Karena pada dasarnya semua penggunaan tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah. Sifat fisik tanah yang berpengaruh meliputi tekstur, struktur, infiltrasi, dan kandungan bahan organik.
3. Topografi
Kemampuan tanah yang terbawa air dipengaruhi oleh topografi suatu wilayah. Pada umumnya topogafi digambarkan dengan kemiringan lereng dari daerah tersebut. Pada lahan datar, percikan butir air hutan melemparkan partikel tanah ke udara ke segala arah dan secara acak, pada lahan miring, partikel tanah lebih banyak yang terlempar ke arah bawah daripada keatas. Kondisi wilayah yang dapat menghanyutkan tanah sebagai sedimen erosi secara cepat adalah wilayah yang memiliki kemiringan lereng yang cukup besar. Sedangkan pada wilayah yang landai akan kurang intensif laju erosifitasnya, karena lebih cenderung pada proses penggenangan.
4. Tanaman Penutup Tanah
Tanaman penutup tanah (vegetasi) berperan untuk menjaga agar tanah lebih aman dari percikan-percikan yang terjadi akibat jatuhnya air hujan ke permukaan tanah. Selain melindungi dari timpaan titik-titik hujan, vegetasi juga berfungsi untuk memperbaiki susunan tanah dengan bantuan akar-akar yang menyebar. Apabila tutupan tanah ini dihilangkan maka akan mengurangi erodibilitas tanah.
5. Manusia
Manusia dapat berperan sebagai penyebab cepatnya laju erosi maupun menekan laju erosi. Dalam proses mempercepat erosi, manusia banyak melakukan kesalahan dalam pengelolaan lingkungan, seperti penambangan, eksploitasi hutan, pengerukan tanah, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam penanggulangan laju erosi, manusia dapat melakukan evaluasi konservasi lahan dengan cara reboisasi, pembuatan terasering pada areal pertanian dan lain-lain.
            Berdasarkan faktor-faktor di atas, faktor yang sering menimbulkan potensi erosi meningkat yaitu manusia. Hal ini disebabkan oleh manusia yang sering mengeksploitasi sumber daya alam secara liar sehingga sering menimbulkan berbagai macam bencana salah satunya tanah longsor dimana tanah longsor itu sendiri akibat dari bentuk terjadinya erosi. Erosi yang disebabkan oleh beberapa faktor penyebabnnya juga akan memberi dampak yang signifikan pada baik pada tempat asal terjadinya erosi (on-site) maupun dampak pada daerah diluarnya (off-site). Dampak erosi tanah di tapak (on-site) merupakan dampak yang dapat terlihat langsung kepada pengelola lahan yaitu berupa penurunan produktifitas. Hal ini berdampak pada kehilangan produksi peningkatan penggunaan pupuk dan kehilangan lapisan olah tanah yang akhirnya menimbulkan terjadinya tanah kritis.
Dampak erosi tanah diluar lahan pertanian (off-site) merupakan dampak sangat besar pengaruhnya. Sedimen hasil erosi tanah dan kontaminan yang terbawa bersama sedimen menimbulkan kerugian dan biaya yang sangat besar dalam kehidupan. Arsyad (1989) mengemukakan bentuk dampak off-site antara lain:
1. Pelumpuran dan pendangkalan waduk seperti halnya waduk Karangkates diperkirakan berumur 150 tahun. Namun akibat erosi yang terbawa oleh air yang berasal dari hulu menyebabkan umur waduk Karangkates diperkiran semakin berkura ng melainkan hanya berumur 80 tahun. Hal ini tentu akan merugikan berbagai pihak karena peran waduk yang sangat bermanfaat baik secara ekonomi maupun perannya sebagai stabilitas lingkungan.
2. Tertimbunnya lahan pertanian dan bangunan. Tanah yang terbawa oleh erosi akan tertimbun pada tempat lain yang memiliki topografi yang lebih rendah. Hal ini menyebabkan solum tanah pada lahan yang ditimbuni akan semakin tebal.
3. Memburuknya kualitas air. Erosi akan menyebabkan penururan kemampuan infiltrasi tanah. Hal demikian jelas akan merugikan karena air tidak mudah masuk kedalam tanah namun hanya dialirkan. Sehingga erosi dapat mengganggu siklus hidrologi didalam tanah.
4. Kerugian ekosistem perairan. Tanah yang terbawa erosi dan mengalir di aliran sungai menyebabkan ekosistem air akan tercemari oleh tanah. Tercemarnya ekosistem air menyebabkan minimnya kandungan oksigen dalam air yang menyebabkan matinya hewan di air.
Dari dampak yang telah dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa erosi cenderung memberi dampak neganif bagi sistem kehidupan yang ada di alam. Dampak tersebut ditunjukkan pada penurunan kualitas tanah, kualitas air, ekologi manusia, serta merusak sumber daya alam yang ada. Dampak yang telah dijelaskan tentu dapat berkurang apabila terdapat keseimbangan pelestarian dengan pemanfaatan lingkungan. Namun saat ini manusia telah banyak eskploitasi alam secara liar sehingga dampak yang ditimbulkan tidak berkurang melainkan bertambah. Seperti halnya penambangan pasir brantas yang menyebabkan tingkat erodibilitas disekitarnya semakin menurun dan mengakibatkan daerah hilir semakin rusak. Kondisi demikian tentu akan semakin memprihatinkan dengan seiring berjalannya waktu yang didukung oleh bertambahnya populasi manusia.




2.2 Analisis Daerah  yang Berpotensi Terhadap Erosi
Secara teoritis erosi memang disebabkan oleh faktor alamiah dan non alamiah. Hal ini juga diungkapkan oleh Herlambang (2004) yang dikutip dari Baver (1972) dan Morgan (1980) bahwa erosi merupakan interaksi antara iklim, topograafi, tanah, vegetasi, dan aktifitas manusia. Namun dampak yang disebabkan oleh faktor alami cenderung lebih stabil. Hal ini memiliki arti bahwa erosi yang disebabkan oleh faktor alami tidak memberi dampak yang signifikan. Sebaliknya, faktor non alami justru berperan besar dalam peningkatan erosi secara signifikan. Untuk meminimalisasi dampak erosi yang signifikan tentu perlu adanya sebuah pemetaan guna evaluasi lahan dalam tata ruang. Analisis tersebut akan memberi manfaat diantaranya untuk perlindungan tata ruang daerah potensi bencana yang kerap terjadi khususnya tanah longsor di Indonesia. Mengingat bahwa tanah longsor merupakan bencana yang tidak pernah absen disetiap tahunnya.
Luas dan Tingkatan Erosi yang Terjadi di Beberapa Tempat Didunia
Daerah
Luas Lahan total km2 x 106
Tererosi
Tingkatan erosi (ton/ha/th)
Afrika

29,81
72,2
Asia

44,89
206,0
-          India
3,28
1,50
250
-          Filipina
0,3
0,09
-
-          Indonesia
1,92
0,20
s/d 173
Australia

7,96
43,1
Eropa

9,67
75
Amerika Utara dan Tengah

20,44
113
Amerika Selatan

17,98
148
(Sumber : Suripan, 2004)

            Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa Indonesia merupakan negara ketiga didunia yang berpotensi terhadap erosi. Potensi ini dianalisis oleh penulis sejak tahun 1980. Disisi lain diketahui bahwa tingkatan bencana longsor di Indonesia semakin meningkat dari tahun ketahun sebagai akibat dari meningkatnya populasi manusia di Indonesia. Sehingga perlu adanya analisis lahan yang berpotensi erosi untuk pengendalian pelestarian alam. Adapun distribuasi daratan yang ada di dunia yang dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel Distribusi Luas Daratan Indonesia
Pulau
Daerah Rawa
Daratan kering berdasarkan kemiringan lereng (%)
Jumlah
%
0-3
3-8
8-15
>15
Sumatera
13.211
9.491
4.102
1.844
19.712
47.360
24,8
Kalimantan
12.746
3.693
4.779
3.308
29.402
53.946
28,3
Sulawesi
939
955
60
927
15.7477
18.904
9,9
Irian Jaya
12.920
3.608
1.287
944
23.477
42.195
22,2
Sub Jumlah
39.434
16.745
10.974
6.923
88.338
162.405
85,2
Jawa + Madura
-
-
-
-
-
13.217
7
Sunda Kecil
-
-
-
-
-
17.361
3,9
Maluku
-
-
-
-
-
7.451
3,9
Jumlah
-
-
-
-
-
190.434
100
 (Sumber : Suripan, 2004)

Jumlah luas daratan di Indonesia yang terdistribusi sekian banyak, menyebabkan perlindungan alamnya harus terkontrol. Sehingga perlu adanya upaya dalam menganalisis daerah-daerah yang berpotensi bencana. Analisis daerah yang berpotensi terhadap erosi dapat dilakukan dengan analisis kemiringan lereng yang terliput pada setiap topografi. Hal ini segaris dengan pernyataan Herlambang (2004) yang dikutip dari Arsyad (1989) bahwa kemiringan lereng, konfigurasi, keseragman, dan arah lereng merupakan unsur topografi yang berpengaruh terhadap erosi. Metode tersebut tentunya sangat membantu dalam penganalisisan daerah potensi erosi. Mengingat bahwa seperti data di atas, Indonesia merupakan salah satu negara yang sering terjadi bencana khususnya longsor, maka perlu diadakannya konservasi lahan ulang untuk mengevaluasi lahan guna rencana perlindungan tata ruang wilayah. Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur para ahli tata ruang. Selain itu analisis daerah potensi erosi juga dapat dijadikan sebagai kajian bidang mitigasi bencana.


2.3. Pemanfaatan Citra Satelit Landsat Skala 1:50.000 untuk Analisis Daerah Potensi Erosi.
Tabel 2. Band-band pada Landsat-TM dan Kegunaannya
Band
Panjang Gelombang (µm)
Spektral
Kegunaan
1
0.45 . 0.52
Biru
Tembus terhadap tubuh air, dapat untuk pemetaan air, pantai, pemetaan tanah, pemetaan tumbuhan, pemetaan kehutanan dan mengidentifikasi budidaya
Manusia
2
0.52 . 0.60
Hijau
Untuk pengukuran nilai pantul hijau pucuk tumbuhan dan penafsiran aktifitasnya, juga
untuk pengamatan kenampakan budidaya manusia.
3
0.63 . 0.69
Merah
Dibuat untuk melihat daerah yang menyerap klorofil, yang dapat digunakan untuk membantu dalam pemisahan spesies tanaman juga untuk pengamatan budidaya manusia
4
0.76 . 0.90
Infra merah
dekat
Untuk membedakan jenis
tumbuhan aktifitas dan
kandungan biomas untuk
membatasi tubuh air dan
pemisahan kelembaban tanah
5
1.55 - 1.75
Infra merah
sedang
Menunjukkan kandungan
kelembaban tumbuhan dan
kelembaban tanah, juga untuk
membedakan salju dan awan
6
10.4 - 12.5
Infra Merah Termal
Untuk menganallisis tegakan
tumbuhan, pemisahan
kelembaban tanah dan pemetaan
panas
7
2.08 . 2.35
Infra
merah
sedang
Berguna untuk pengenalan
terhadap mineral dan jenis
batuan, juga sensitif terhadap
kelembaban tumbuhan
(Sumber :Lillesand dan Kiefer, 1997)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa citra Landsat terdapat banyak aplikasi yang dapat digunakan pada berbagai kebutuhan seperti pemetaan penutupan lahan, pemetaan penggunaan lahan, pemetaan tanah, pemetaan geologi, pemetaan suhu permukaan laut dan lain-lain. Untuk pemetaan penutupan dan penggunaan lahan data Landsat TM lebih dipilih daripada data SPOT multispektral karena terdapat band inframerah menengah. Landsat TM adalah satu-satunya satelit non-meteorologi yang mempunyai band inframerah termal. Data termal diperlukan untuk studi proses-proses energi pada permukaan bumi seperti variabilitas suhu tanaman dalam areal yang diirigasi. 
 








Citra Landsat 7 ETM+ Daerah Gunung Semeru
Citra satelit Landsat juga merupakan salah satu satelit yang memiliki resolusi resolusi rendah yaitu 30 m sehingga tepat apabila digunakan untuk pemetaan lahan melalui metode interpretasi. Menurut Rayes (2007) interpretasi citra satelit dilakukan untuk menghasilkan peta interpretasi foto udara baik berupa peta wujud lahan (landform), peta liputan lahan, dll. Hasil interpretasi tersebut dapat dipakai sebagai dasar dalam penganalisisan dalam pemetaan potensi lahan terhadap erosi. Pemetaan yang dilakukan menggunakan citra satelit Landsat terfokus pada komposit 321. Karena komposit 321 merupakan true color yang mampu memberi informasi objek sesuai warna aslinya. Erosi di tekankan pada daerah yang bertopografi atau berkontur tinggi. Pada citra satelit Landsat dengan komposit 321 kenampakan daerah yang bertopografi tinggi ditunjukkan dengan warna hijau. Sedangkan pada daerah yang berpotensi tinggi terhadap erosi yaitu daerah yang dengan kenampakan hijau pekat dan disertai dengan adanya pola igir. Pola igir menunjukkan adanya konfigurasi lereng yang sangat terjal serta menunjukkan daerah tersebut merupakan daerah pegunungan struktural. Analilis daerah potensi erosi dengan citra satelit Landsat dilakukan dengan metode-metode interpretasi citra diantaranya dapat dilihat pada bagan berikut:
 































Seperti yang terkonsep pada gambar di atas, sebelum menginterpretasi citra maka membutuhkan software ENVI 4.5 untuk mengolah citra secara digital diantaranya koreksi geometrik dan radiometrik. Koreksi geometrik merupakan kegiatan meletakkan posisi citra di bumi dengan system proyeksi yang telah disepakati. Memposisikan citra ini guna sebagai koreksi tingkat kebenaran citra sesuai dengan aslinya yang ditunjukkan dengan nilai RMSnya. Sedangkan koreksi radiometrik merupakan kegiatan yang dilakukan pada software remote sensing menggunakan koreksi yang mengacu pada tabel histogram. Salah satu kegiatan koreksi radiometrik yaitu penajaman citra. Proses ini bertujuan untuk memanipulasi kontras antar objek, sehingga lebih mudah dibedakan, dikenali, dan diinterpretasi. Pada manipulasi kontras, beda kenampakan objek pada citra dapat dipertajam melalui pengubahan beda tingkat kecerahannya yang berpacu pada tabel histogramnya. Setelah dilakukanya pengolahan citra secara digital maka citra tersebut telah siap untuk diinterpretasi. Adapun 9 kunci yang digunakan dalam menginterpretasi citra pada remote sensing yaitu rona, tekstur, pola, bentuk, bayangan, situs, asosiasi, dan konvergensi. Setelah interpretasi selesai maka perlu adanya deleniasi sebagai titik fokus analisa. Setelah proses deleniasi selesai maka hasil deleniasi tersebut diklasifikasikan kedalam tingkat potensi erosi. Sebelum pengklasifikasian maka dilakukan penyesuaian atau koreksi warna dengan klasifikasi garis kontur yang ada di peta RBI. Dengan penyatuan warna dan garis kontur maka akan mempererat hasil analisis secara detail.
Sedangkan disisi lain, dalam menganalisa citra Landsat terfokus pada skala 1:50.000. Hal ini disebabkan oleh peta skala 1:50.000 mampu memberi informasi garis kontur ketinggian dengan cukup detail. Sehingga skala 1:50.000 dapat digunakan untuk analisis pemanfaatan citra Landsat untuk penggunaan lahan sesuai dengan metode interpretasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Pemanfaatan citra dalam skala ini juga dapat digunakan untuk perlindungan pengembangan Rencana Ruang Tata Wilayah (RTRW) atau sebagai acuaan dalam konservasi tanah dalam pengendalian erosi.
Metode-metode di atas merupakan metode yang dapat diterapkan dalam analisis daerah potensi erosi menggunakan citra satelit Landsat. Dengan adanya pemetaan menggunakan citra satelit Landsat ini, diharapkan dapat membantu perencanaan perlindungan lingkungan alam serta dapat digunakan sebagai konservasi tanah untuk penanggulangan bencana alam secara mikro maupun makro.  Setelah diadakan pemetaan daerah potensi erosi ini diperlukan tindak lanjut guna mengfungsikan pemetaan ini baik dalam teori maupun di lapangan.

4. Penutup
4.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini, dapat disimpulkan bahwa erosi merupakan proses lepasnya partikel-partikel tanah yang disebabkan oleh tenaga geomorfologis seperti angin dan air yang diikuti dengan proses sedimentasi di daerah lain. Erosi disebabkan oleh beberapa faktor diantanya iklim, tanah, tanaman tutupan lahan, topografi, dan manusia. Berkaitan hal tersebut populasi manusia yang semakin meningkat akan menyebabkan semakin tinggi pula tingkat kerawanan kerusakan sumberdaya alam. Seiring dengan berkembangnya populasi manusia serta teknologi  maka diperlukan inovasi guna mengendalian pemanfaatan sumberdaya alam khususya pengendalian erosi. Untuk itu, pemetaan daerah potensi erosi sangat diperlukan untuk pengelolahan sumberdaya alam yang lebih konservatif. Salah satu inovasi dalam SIG diantaranya sistem penginderaan jauh yang dapat membantu perolehan data secara tepat. Salah satu hasil teknologi penginderaan jauh yaitu citra satelit Landsat.  Pemetaan daerah potensi erosi menggunakan citra satelit Landsat melalui berbagai metode-metode dalam analisis seperti perolehan data, pengolahan data secara digital menggunakan saluran 321, interpretasi citra, klasifikasi lahan hingga terbentuklah peta daerah potensi erosi  menggunakan citra satelit Landsat.

4.2 Saran
1.      Diharapkan dengan adaya teknologi pemetaan tersebut, masyarakat dapat lebih memperhatikan daerah daerah yang potensial tinggi terhadap erosi. Sehingga masyarakat dapat mengantisipasi maupun mengurangi segala dampak yang dapat ditimbulkan oleh erosi.
2.      Diharapkan kepada pemerintah agar memperhatikan pengendalian SDA yang seiring berjalannya waktu tingkat kerusakannya semakin meningkat. Selain itu pemerintah juga memperhatikan program perencanaan pembangunan wilayah. Dengan adanya pemetaan ini pembangunan pemerintah berkelanjutan lebih terkendali dan seimbang dengan terjaganya lahan. Sehingga kondisi ini dapat mengurangi segala dampak yang ditimbulkannya.
3.      Diharapkan adanya tindak lanjut konservasi lahan di lapangan kepada para geograf sehingga pemetaan ini tidak hanya menjadi hasil namun memiliki nilai fungsi baik dalam teori maupun di lapangan.


Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment