Monday, 26 August 2013

PERAN RUMPUT VETIVER DALAM MENGURANGI LAJU EROSI

PERAN RUMPUT VETIVER DALAM MENGURANGI LAJU EROSI

1.    PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan sumber daya alam yang paling mudah mengalami kerusakan. Salah satu bentuk dari kerusakan tanah adalah erosi. Beberapa faktor penyebab terjadinya erosi, yaitu kondisi vegetasi, kemiringan lereng, curah hujan dan tingkat resistensi tanah. Hutan atau padang rumput yang tebal merupakan pelindung tanah yang efektif dari bahaya erosi. Tanaman yang tinggi biasanya menyebabkan erosi yang lebih besar dibandingkan tanaman yang rendah, karena air yang tertahan oleh tanaman masih dapat merusak tanah pada saat jatuh di permukaan tanah. Bentuk lereng juga berpengaruh terhadap erosi, dimana lereng yang cembung tingkat erosinya lebih besar daripada lereng yang cekung atau lurus. Intensitas curah hujan yang rendah juga tidak menyebabkan terjadinya erosi, demikian pula jika intensitas curah hujan tinggi namun terjadi dalam waktu yang singkat tidak akan menyebabkan terjadinya erosi karena air yang tersedia tidak cukup untuk menghanyutkan tanah. Tingkat resistensi tanah atau tingkat ketahanan tanah menentukan mudah tidaknya massa tanah untuk dihancurkan. Seperti tanah liat akan sulit untuk mengalami erosi karena memiliki tingkat resistensi yang tinggi.
Erosi yang terjadi secara alamiah tidak memberikan dampak yang besar, hal ini dikarenakan banyaknya partikel-partikel tanah yang dipindahkan seimbang dengan banyaknya tanah yang terbentuk di tempat-tempat yang lebih rendah. Berbeda dengan erosi yang terjadi akibat tingkah laku manusia dalam aktivitas tata guna lahan yang buruk, contohnya penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, dan kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik. Tanah yang digunakan untuk areal pertanian umumnya mengalami erosi lebih besar dibandingkan dengan tanah yang masih memiliki vegetasi alami. Hutan yang dialih fungsikan menjadi kawasan pertanian meningkatkan tingkat erosi, karena akar tanaman yang kokoh digantikan dengan akar tanaman yang lebih lemah.
Erosi tidak hanya menimbulkan kerusakan pada tempat terjadinya erosi, tetapi juga merusak daerah daerah penerima hasil erosi. Dampak erosi pada daerah asal adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan memengaruhi kelancaran jalur pelayaran. Ini adalah kerusakan yang terjadi pada daerah di luar daerah erosi awal.
Mengingat bahaya erosi yang merugikan lingkungan, perlu dilakukan berbagai usaha pencegahan atau pengendalian erosi. Pengendalian erosi dapat dilakukan dengan tiga metode yag dikenal dengan metode konservasi tanah yaitu metode vegetative, metode mekanis dan metode kimia. Dalam metode vegetative dilakukan dengan cara menanam tanaman penutup tanah dan reboisasi. Metode mekanis bisa dilakukan dengan cara terasering dan pembuatan bendungan pengendali (cekdam). Sedangkan metode kimia bisa dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia untuk meningkatkan produktivitas tanah.
Teknologi vegetatif (penghutanan) sering dipilih karena selain dapat menurunkan erosi dan sedimentasi di sungai-sungai juga memiliki nilai ekonomi (tanaman produktif) serta dapat memulihkan tata air suatu DAS (Hamilton, et.al., 1997). Secara vegetative, konservasi tanah dilakukan dalam bentuk tanaman berupa pohon atau semak baik tanaman tahunan maupun rumput-rumputan. Salah satu rumput yang memiliki kemampuan menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya adalah rumput vetiver.
Di Indonesia, rumput vetiver dikenal dengan akar wangi dan dimanfaatkan sebagai penghasil minyak wangi melalui ekstraksi akar wangi. Namun, di beberapa negara, vetiver banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ekologis dan fitoremediasi (memperbaiki lingkungan dengan menggunakan tanaman) lahan dan air, seperti rehabilitasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan abrasi pantai dan stabilisasi tebing melalui teknologi yang disebut Vetiver Grass Technology (VGT) atau Vetiver System (VS), sebuah teknologi yang sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India.
Rumput vetiver termasuk dalam spesies Vetiveria zizanoldes dan famili graminac. Bagian tanaman vetiver yang berada di dalam tanah terdiri dari sejumlah akar-akar serabut berwarna kuning pucat atau abu-abu sampai kemerahan. Akar tersebut mengandung minyak atsiri dengan kadar vetivero yang berwujut cairan kental dengan bau halus dan tahan lama. Selain itu, akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras. Di lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tekstur tanah dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai “kolom hidup”.
Meski hanya rumput, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam penanaman rumput vetiver, diantaranya adalah tanah yang akan ditanami harus bebas dari tanaman liar dan kotoran sampah lainnya dan tanah dalam kondisi lembab. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai prasyarat serta cara penanaman rumput vetiver.

1.2 Rumusan Masalah
      1. Apa saja faktor penyebab erosi?
      2. Bagaimana upaya untuk mengurangi intensitas erosi pada tanah?
      3. Bagaimana peran rumput vetiver dalam mengurangi laju erosi?

1.3 Tujuan
      1. Mengetahui faktor-faktor penyebab erosi
      2. Mengetahui upaya-upaya untuk mengurangi intensitas erosi pada tanah
      3. Mengetahui bagaimana peran rumput vetiver dalam mengurangi laju erosi

2.        PEMBAHASAN
2.1    Faktor-faktor penyebab erosi
Erosi merupakan masalah yang tidak bisa dianggap biasa. Erosi merupakan suatu peristiwa yang terjadi secara alami, tetapi bisa menjadi lebih parah karena tingkah laku manusia. Sebagian besar, erosi terjadi di daerah pertanian, karena alih fungsi lahan menjadi daerah pertanian berarti mengganti tanaman yang berakar kuat dengan tanaman pertanian yang umumnya memiliki akar yang lemah. Tindakan yang salah dalam mengelola lahan pertanian juga bisa memperbesar laju erosi.
Meskipun ada dampak positifnya, tapi dampak negatif dari erosi akan berakibat fatal. Oleh karena itu, dampak erosi tersebut perlu diperhatikan, diantaranya adalah mengurangi tingkat kesuburan tanah di daerah penerima hasil erosi. Dampak lainnya adalah meningkatkan resiko banjir karena tanah hasil erosi tersebut mungkin akan diendapkan di dasar sungai, pelabuhan atau tempat penampungan air lainnya. Disamping itu, dampak negative dari erosi juga terasa pada daerah asal terjadinya erosi. Lapisan top soil yang banyak mengandung bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman ikut terangkut. Sedangkan pengaruh erosi pada kesuburan fisik tanah diantaranya adalah terjadinya perubahan struktur tanah, penurunan kapasitas infiltrasi dan penampungan, serta perubahan profil tanah. Sedangkan pengaruh erosi pada kesuburan kimia tanah adalah kehilangan unsur hara karena erosi selama rata-rata 2 tahun yang diperoleh dari percobaan di Missouri yaitu N 66 kg per hektar, kemudian P2O5 41 kg per hektar,K2O 729 kg per hektar, MgO 145 per kg per hektar,dan SO4 sebanyak 42 kg per hektar per tahun. Tanah yang dikatakan rusak kalau lapisan bagian atasnya atau top soil (ketebalan 15–35 cm) memang telah banyak terkikis dan atau dihanyutkan oleh arus air hujan, sehingga lapisan tersebut menjadi tipis atau bahkan hilang (Kartasapoetra,1986:45).
Besarnya tingkat erosi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1.    Intensitas Curah Hujan
Hujan berpengaruh terhadap laju erosi, terutama di daerah tropis. Di Indonesia, intensitas curah hujannya lebih tinggi daripada daerah yang berada di daerah subtropis. Hal ini karena Indonesia terletak di daerah khatulistiwa yang merupakan daerah pusat tekanan rendah.
Akan tetapi, hujan tidak menyebabkan erosi ketika intensitasnya kecil. Begitu pula hujan tidak akan menyebabkan erosi ketika intensitas curah hujannya kecil tetapi berlangsung dalam waktu yang singkat (Baver, 1959).
2.    Vegetasi
Vegetasi berperan dalam mengurangi kecepatan aliran permukaan yang bisa menghanyutkan partikel-partikel tanah yang tak padat. Pada hutan yang belum dipengaruhi oleh campur tangan manusia, mineral tanah dilindungi oleh lapisan humus dan lapisan organik yang berada pada lapisan atas. Lapisan-lapisan tanah di hutan bersifat porus dan mudah menyerap air hujan. Umumnya, hanya hujan-hujan yang lebat yang akan mengakibatkan limpasan di permukaan tanah dalam hutan.
3.    Topografi
Topografi yaitu tinggi rendahnya permukaan bumi sehingga terdapat yang dinamakan dengan kemiringan lereng. Bagian-bagian dari lereng yang mempengaruhi erosi yaitu panjang lereng, kemiringan lereng dan bentuk lereng. Semakin panjang suatu lereng, maka laju erosi akan semakin besar jika diikuti oleh hujan yang lebat, tetapi meskipun lereng semakin panjang tetapi intensitas hujan rendah, maka tidak akan menimbulkan erosi. Bentuk lereng yang berpotensi untuk terjadinya erosi yaitu lereng yang cembug yang semakin curam ke arah lereng bawah. Menurut Arsyad (1989:225), klasifikasi kelas lereng adalah sebagai berikut:
KEMIRINGAN ( % )
KLASIFIKASI
KELAS
0 – 3
Datar
A
3 – 8
Landai Atau Berombak
B
8 – 15
Agak Miring
C
15 – 30
Miring
D
30-45
Agak Curam
E
45-65
Curam
F
>65
Sangat Curam
G

4.    Tanah
Faktor tanah berkaitan dengan tingkat resistensi tanah. Tanah yang kuat tidak akan mudah terkena erosi, seperti tanah liat. Tekstur tanah liat halus, hal ini berdampak pada daya genggam air. Tanah liat memiliki sifat sulit dalam meneruskan air dan kuat dalam menggenggam air, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama dalam meresapkan air. Tanah yang tingkat resistensinya lemah akan mudah mengalami erosi.
5.    Manusia
Manusia mempunyai peranan besar dalam mengurangi maupun mempercepat laju erosi dengan berbagai aktifitas yang dilakukannya. Sebagai contoh kegiatan manusia yang mengurangi laju erosi adalah melakukan konservasi tanah dengan cara reboisasi. Sedangkan kegiatan manusia yang mempercepat erosi contohnya adalah menebang pohon tanpa sistem tebang pilih serta tidak menanaminya kembali.
Sebagian besar erosi terjadi pada lahan pertanian. Teknik pengolahan tanah yang salah juga bisa semakin mempercepat laju erosi. Pembuatan teras, penanaman secara berjalur, penanaman atau pengolahan tanah menurut kontur, adalah kegiatan manusia yang dapat menurunkan erosi. Di lain pihak, penanaman searah lereng, perladangan dan penggunaan lahan tanpa memperhatikan kaidah konservasi akan meningkatkan bahaya erosi (Arsyad, 1983). Pengolahan tanah menurut kontur secara umum mengurangi erosi secara efektif terutama bila terjadi hujan lebat dengan intensitas sedang sampai rendah.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, faktor-faktor penyebab erosi tersebut memiliki hubungan yang saling berkaitan. Misalnya, curah hujan yang tinggi dan terjadi dalam waktu yang lama bisa menyebabkan erosi asalkan berada pada daerah yang tidak datar dan daerah tersebut tidak memiliki vegetasi. Tetapi, meskipun curah hujan tinggi, bila terjadi dalam waktu yang singkat tidak akan terjadi erosi karena air yang tersedia tidak cukup kuat untuk mengangkut partikel tanah.



2.2    Upaya-Upaya Untuk Mengurangi Laju Erosi
Erosi menyebabkan tanah akan kehilangan lapisan tanah paling atas atau lapisan top soil tanah. Erosi ini biasa disebut sebagai erosi lembar. Sebelum terjadi erosi lembar, terlebih dahulu diawali oleh erosi percik, yaitu erosi yang terjadi karena adanya percikan air hujan. Apabila erosi lembar terjadi secara terus-menerus maka akan menimbulkan erosi alur yang menyebabkan terbentuknya alur-alur yang searah dengan kemiringan lereng. Erosi alur ini biasanya terjadi pada lahan pertanian yang baru saja diolah.
Besarnya erosi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sifat-sifat tanah, intensitas curah hujan, bentuk lereng, dan campur tangan manusia. Selain itu, kondisi vegetasi juga mempengaruhi besarnya laju erosi yang terjadi.
Pada masa ini, banyak sekali kegiatan manusia yang mempercepat laju erosi. Diantaranya adalah menebang hutan secara sembarangan, mengganti lahan hutan musim dengan lahan pertanian, dan sebagainya. Hutan yang tidak ada vegetasinya semakin memperbesar resiko erosi, karena tidak ada yang mengurangi aliran permukaan.
Dampak erosi tidak hanya terasa di daerah terjadinya erosi, tetapi juga terasa di daerah penerima erosi. Di daerah asal terjadinya erosi, tanah akan mengalami penurunan produktivitas tanah, kualitas tanaman menurun, merusak struktur tanah, laju infiltrasi dan kemampuan tanah dalam menahan air berkurang. Sedangkan pada daerah penerima erosi, tanah bisa menjadi tercemar karena material hasil erosi merupakan polutan.
Berdasarkan pertimbangan terhadap bahaya erosi, perlu adanya usaha pengendalian erosi yang bisa dilakukan dengan tiga cara yang disebut dengan metode konservasi tanah. Metode konservasi tanah dapat dilakukan dengan cara:
1.      Metode vegetatif yaitu dengan melakukan penanaman tanaman dengan cara-cara tertentu sehingga dapat melakukan laju erosi. Usaha konservasi tanah yang termasuk dalam metode vegetatif adalah reboisasi, menanam tanaman penutup tanah, penanaman dengan strip cropping (penanaman strip) dan pergiliran tanaman dengan pupuk hijau..
2.      Metode mekanis yaitu dengan mengolah tanah dengan teknik-teknik yang bisa menghambat aliran air. Metode mekanis dapat dilakukan dengan cara pembuatan teras da pembuatan bendungan pengendali.
3.      Metode kimiawi yaitu dengan menggunakan bahan kimia untuk meningkatkan  kesuburan tanah dan memperbaiki struktur tanah sehingga tanah bisa menjadi lebih resisten lagi terhadap erosi.
Pemilihan metode konservasi tanah harus dilakukan dengan beberapa pertimbangan, karena prinsip dari metode konservasi tanah harus dipenuhi. Selain itu, masing-masing tanah memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga mebutuhkan tindakan dengan teknik yang berbeda pula. Adapun prinsip-prinsip dari metode konservasi tanah adalah melindungi tanah dari air hujan, mengurangi aliran permukaan dengan meningkatkan laju infiltrasi tanah, meningkatkan stabilitas agregat tanah, dan mengurangi kecepatan aliran permukaan.
Dari pernyataan di atas, diketahui bahwa upaya konservasi tanah memang penting, tetapi tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa adanya pertimbangan. Untuk daerah di wilayah Indonesia, metode yang paling cocok untuk diterapkan adalah metode vegetatif. Metode ini cukup mudah untuk dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang relatif mahal. Berbeda dengan metode kimiawi. Metode kimiawi memang cukup efektif, tetapi biaya yang harus dikeluarkan juga cukup banyak.


2.3    Peran Rumput Vetiver dalam Mengurangi Laju Erosi
Erosi merupakan suatu proses penghancuran tanah dan kemudian dipindahkan ke tempat lain. Erosi tidak hanya menyebabkan kerusakan di tempat terjadinya erosi, tetapi juga kerusakan di tempat lain sebagai tempat untuk mengendapkan hasil erosi tersebut. Erosi bisa menyebabkan suatu lahan menjadi kritis, artinya lahan tersebut kehilangan fungsi produktifitas dan ekonomi.
Mengingat bahaya erosi yang bisa berakibat fatal, diperlukan adanya suatu usaha untuk mengurangi laju erosi tersebut. Usaha untuk mengurangi laju erosi biasa disebut dengan metode konservasi tanah. Adapun tujuan dari metode konservasi tanah adalah melindungi tanah dari air hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan stabilitas agregat tanah. Metode konservasi tanah dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu metode vegetatif, metode mekanik dan metode kimiawi.
Dari ketiga metode konservasi tanah, metode vegetatif yang paling banyak dipilih. Vegetasi erat kaitannya dengan laju erosi. Syarat-syarat vegetasi yang bisa menekan laju erosi adalah sebagai berikut:
1.         Tanaman harus tumbuh rapat dan tidak mudah terbakar
2.         Tanaman harus permanent dan tahan lama
3.         Akar dapat menancap dan mampu mencapai kedalaman hingga 3 meter
4.         Tanaman mampu hidup baik dalam kondisi kering
5.         Tanaman harus mampu hidup di semua jenis tanah
Persyaratan vegetasi tersebut lebih mudah diaplikasikan pada tanaman rumput. Ada satu jenis rumput yang disebut sebagai rumput vetiver, atau di Indonesia lebih dikenal dengan akar wangi. Rumput ini termasuk dalam spesies Vetiveria zizanoldes. Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak hingga ketinggian pada 1,5-2,5 meter dan memiliki sistem perakaran yang dalam yang mampu menembus hingga 5,2 meter. Di Jawa Barat, tanaman ini dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Akarnya yang mengandung minyak atsiri dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pewangi. Tetapi jika tanaman vetiver ini ditanam untuk upaya konservasi tanah dan air, akarnya tidak boleh dipanen karena akan menimbulkan kerusakan pada tanah.
Rumput vetiver memiliki batang yang kaku dan keras yang jika ditanam berdekatan akan membentuk semacam pagar yang mampu menahan aliran air. Tanaman ini juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji sehingga pertumbuhannya tidak menyebar secara liar seperti alang-alang.
Tanaman vetiver ini mampu tumbuh pada ketinggian 500-1500 meter dpl, dengan curah hujan antara 500-2500 mm per tahun. Tanaman ini juga mampu tumbuh pada suhu 17-27oC. Media yang paling baik untuk menanam rumput vetiver adalah tanah yang berpasir atau daerah aliran gunung berapi. Tanaman ini mampu tumbuh sepanjang tahun, tetapi waktu penanaman yang terbaik adalah ketika musim penghujan.
Rumput vetiver merupakan rumput yang cukup kuat dalam melawan arus. Rumput ini tidak akan tercabut meski terjadi banjir. Malah sebaliknya, rumput ini akan membantu menahan air dan memberikan waktu yang lebih lama untuk air dapat meresap.

Di India penanaman pada lahan dengan kemiringan 1,7%, kontur pagar tanaman Vetiver mengurangi limpasan (berbanding dengan presentasi curah hujan) dari 23,3% (kontrol) menjadi 15,5% dan kehilangan tanah dari 14,4 t/ha menjadi 3,9 t/ha, dan panen sorgum meningkat dari 2,52 t/ha menjadi 2,88 t/ha selama waktu empat tahun. Peningkatan panen terutama terjadi pada konservasi tanah dan kelembaban di tempat asal (in situ) di seluruh toposekuen yang dilindungi oleh sistem pagar tanaman Vetiver (Truong 1993). Pada plot kecil di International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT), pagar tanaman Vetiver lebih efektif dalam mengendalikan limpasan dan kehilangan tanah dibanding tanaman serai atau stone bunds. Limpasan dari plot Vetiver hanya 44% dari plot kontrol dengan kemiringan 2,8% dan 16% untuk kemiringan 0,6%. Tercatat pengurangan limpasan rata-rata 69% dan tanah yang hilang berkurang 76% pada plot Vetiver, dibanding plot kontrol (Rao et al. 1992).
Hal tersebut di atas adalah beberapa keunikan serta kelebihan dari rumput vetiver. Adapun kelemahannya adalah tanaman ini tidak dapat langsung berperan aktif dalam mengurangi laju erosi, karena rumput ini memerlukan proses untuk tumbuh. Selain itu, karena tumbuhnya tegalk lurus dengan tanah (vertical), perlu ditanami tanaman penutup tanah yang lain sebagai selingan.
Berdasarkan keterangan tersebut di atas, maka dalam upaya konservasi tanah dan air secara vegetatif, lebih baik menggunakan rumput vetiver yang memiliki akar yang kuat, tidak mudah tercabut dan membantu dalam proses penginfiltrasian air. Selain itu, metode ini mudah untuk dilakukan dan tidak membutuhkan biaya yang banyak.


3.    PENUTUP
3.1    Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa dampak dari erosi bisa berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Kerugian yang diakibatkan oleh erosi tidak hanya di daerah asal terjadinya erosi, tetapi juga di daerah penerima hasil erosi. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi laju erosi dengan metode konservasi tanah. Salah satu dari cara metode konservasi tanah yaitu dengan melakukan penanaman tanaman sehingga dapat memperlambat aliran permukaan dan menekan laju erosi. Cara yang mudah dan murah dengan cara ini adalah dengan menggunakan rumput vetiver. Dengan rumput ini, laju erosi dapat ditekan karena rumput ini memenuhi syarat sebagai tanaman yang dapat digunakan untuk konservasi.




3.2    Saran
Sebaiknya pemerintah lebih memberi perhatian lagi terhadap kegiatan Illegal Logging, karena erosi yang terjadi sebagian besar diawali oleh kegiatan ini. Jika kegiatan ini dapat ditekan, otomatis laju erosi akan berkurang. Dan terhadap usaha konservasi tanah, sebaiknya lembaga yang berkaitan dengan hal tersebut mencari inovasi baru terutama tehadap cara kimiawi supaya menjadi lebih ramah lingkungan lagi.




DAFTAR RUJUKAN
Astuti, Ariyuni. 2009. Pemanfaatan Rumput Vetiver Vetiveria. (Online)
http://renaisans-unibo.blogspot.com/2009/03/pemanfaatan-rumput-vetiver-vetiveria.html diakses pada 18 April 2013

Balitbang Pekerjaan Umum. Tanpa Tahun. Vetiver Rumput Perkasa Penahan Erosi. (Online) http://balitbang.pu.go.id/vetiver-rumput-perkasa-penahan-erosi.balitbang.pu.go.id diakses pada 18 April 2013

Bimapala UID. 2010. Faktor yang Mempengaruhi Erosi. (Online) http://faktoryangmempengaruhierosi.blogspot.com/2010/04/faktor-yang-mempengaruhi-erosi.html diakses pada 15 April 2013

Hardjowigeno, Sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo

Kementerian Pekerjaan Umum. Tanpa Tahun. Vetiver Indonesia. (Online) http://vetiverindonesia.wordpress.com/pedoman/kementerian-pu/ diakses pada 18 April 2013

Oli’i, Muhammad Ramdhan. 2012. Rumput Vetiver Pencegah Erosi dengan Bioengineering. (Online) http://kakaramdhanolii.wordpress.com/2012/10/15/rumput-vetiver-pencegah-erosi-dengan-bioengineering/ diakses pada 18 April 2013

Purnomo, Dony. 2012. Klasifikasi Kemiringan Lereng. (Online) http://pinterdw.blogspot.com/2012/03/klasifikasi-kemiringan-lereng.html diakses pada 15 April 2013

Putri, Harmin Adijaya. 2013. Konservasi Tanah Air dan Erosi. (Online)  http://mimetakamine.blogspot.com/2013/03/konservasi-tanah-air-dan-erosi.html diakses pada 15 April 2013

Samrumi. 2009. Erosi yang Masih diperbolehkan. (Online) http://samrumi.blogspot.com/2009/01/erosi-yang-masih-diperbolehkan.html diakses pada 15 April 2013





Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment