Saturday, 8 March 2014

Secarik Peta yang Pernah Menentukan Nasib Indonesia


Secarik kertas berukuran satu meter persegi mungkin tak berarti apa-apa. Namun, kertas abad ke-16 yang memuat peta pulau-pulau di Indonesia ini sempat menentukan nasib Indonesia.
Rumor beredar di Eropa pada akhir abad ke-16 bahwa Portugis sedang 'kedodoran' menangani perdagangan rempah-rempah di Batavia, Jakarta tempo dulu, dan Kerajaan Belanda sedang bersiap-siap melakukan ekspedisi.
Ahli kartografi Jan Huygen van Linschoten buru-buru merampungkan bukunya yang berjudul Itinerario (terbit 1596) dan peta Indonesia lengkap dengan petunjuk navigasi (1598).
Sebelumnya, hanya Portugis yang memiliki informasi mengenai pelayaran ke dunia timur dan negeri itu menyimpan pengetahuannya rapat-rapat.
Semua tahu apa yang terjadi kemudian. Belanda datang ke Pulau Jawa dan mendirikan perusahaan multinasional pertama di dunia pada tahun 1602, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Sejak itu, kekayaan alam Indonesia bagai terisap ke Belanda.
Pada akhir abad ke-16 itu, pengetahuan diperoleh dari buku. “Paman Google” yang sekarang ini sangat populer tentu saja belumlah lahir. Bersenjatakan sebuah buku dan peta Van Linschoten, Belanda sukses dalam ekspansinya ke Asia, termasuk ke Indonesia yang diberinya nama Hindia Belanda.
Peta itu adalah modalnya. Benar bahwa pengetahuan dan kemajuan teknologi navigasi Belanda pada abad itu telah membawa ke zaman keemasan. Dua faktor penentu ini masih berlaku hingga sekarang.
Walau sejarah membuktikan bahwa penjajahan di suatu negara hanya melahirkan ketertinggalan, seperti terjadi di banyak negara bekas jajahan, pengetahuan dan teknologi tetaplah menjadi penentu kemajuan.
Peta Van Linschoten berjudul The Moluccan Islands, in His Discours of Voyages into ye Easte & West Indies: Divided into Foure Books itu dapat dilihat di Perpustakaan Nasional Australia, Canberra.
Peta itu beserta puluhan peta kuno lain terpampang rapi di pameran bertajuk Mapping Our World: Terra Incognita to Australia yang bercerita tentang mimpi dan penjelajahan orang Eropa ke dunia selatan sepanjang 3.000 tahun.
Peta Van Linschoten memuat Pulau Jawa, Borneo, dan pulau-pulau di Maluku. Walau berwarna kuning kusam, garis-garis batas pulau dan nama-namanya masih jelas. Namun, pihak museum tidak mengizinkan pengunjung memotret peta-peta ataupun koleksi lain yang tersimpan di dalamnya.
Pameran yang berlangsung dari 7 November 2013 sampai 10 Maret 2014 itu juga berkisah tentang peta Australia yang baru dibuat pertama kali tahun 1744.
Tampaknya Eropa lebih dulu tertarik kepada Asia, termasuk Indonesia, daripada benua besar di Bumi belahan selatan ini. Pada abad ke-15, negara-negara Eropa, dipacu oleh kemajuan teknologi pelayaran, berlomba-lomba mengarungi lautan ke selatan. Tujuan utamanya adalah untuk berdagang dan menemukan daerah baru.
Informasi-informasi yang dikumpulkan dalam pelayaran ini diberikan kepada para ahli kartografi untuk pembuatan peta. Dari sinilah orang Eropa untuk pertama kali berhasil membuat peta dunia.
Imajinasi manusia nyatanya merupakan kekuatan yang luar biasa. Sebelum teknologi pelayaran berkembang, Macrobius dengan daya imajinasinya percaya bahwa ada orang hidup di belahan bumi selatan yang berdiri dengan kaki yang bertolak belakang dengan orang-orang di Eropa. Dengan kata lain, ia memvisualisasikan sebuah Bumi yang bulat.
Dan, begitulah peta kuno buatan Macrobius yang ada di pameran ini: peta kuno yang tampak sangat sederhana, tetapi memuat sebuah kebenaran yang kemudian terbukti.
(Harry Bhaskara. Sumber: Kompas)

Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment