Wednesday, 30 April 2014

ANALISIS KEMACETAN DI KOTA MALANG

ANALISIS KEMACETAN DI KOTA MALANG
Hendra Dwi Purnama
Universitas Negeri Malang
E-mail: hendra_dwipurnama@yahoo.com
ABSTRAK: Studi ini dilakukan karena kemacetan merupakan di banyak kota – kota besar di Indonesia. Hal ini dikarenakan jumlah kendaraan bermotor tiap harinya bertambah banyak dan tidak diimbangi dengan bertambahnya jalan atau pembangunan yang ada. Kota Malang merupakan kota yang mulai banyak terjadi kemaccetan. Kota malaang merupakan kota pelajar dimana banyak pendatang dari luar kota yang semakin memperparah kemacetan di Kota Malang.
Kata kunci: Kota Malang, Perkembangan Kota, Kemacetan
   Fungsi utama dari jalan adalah sebagai prasarana lalu-lintas atau angkutan, guna mendukung kelancaran arus barang, jasa, serta aktifitas masyarakat. Kenyataan diperkotaan terjadi ketidak seimbangan antara tingkat pertumbuhan jalan disatu sisi dengan tingkat pertumbuhan kendaraan disisi lain, dimana pertumbuhan jalan jauh lebih kecil daripada tingkat pertumbuhan kendaraan. Dengan kondisi yang demikian, dapat dipastikan akan terjadi pembebanan yang berlebihan pada jalan, yang pada gilirannya mengakibatkan terjadi kemacetan lalu-lintas, kenyamanan perjalanan terganggu, kebosanan perjalanan, kelelahan perjalanan, pemborosan waktu dan materi. Yang kesemuanya menjurus kearah terjadinya pelanggaran dan kecelakaan lalu-lintas.Kemacetan lalu-lintas, bagi sebagian orang mungkin biasa, tetapi menjadi tidak biasa dan mungkin menjengkelkan bagi mereka yang menganggap waktu adalah sangat berharga, waktu adalah uang, waktu adalah kesempatan, waktu adalah prestasi, dan waktu adalah karier.
Kemacetan lalu-lintas merupakan masalah di kota-kota yang perkembangannya melaju dengan pesat seperti di kota malang. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab kemacetan lalu-lintas tersebut, sepintas mungkin sama, mungkin juga tidak, setiap tempat atau lokasi bisa berbeda karakteristik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi, disamping antara yang direncanaankan dan pelaksanaan yang belum tentu sama. Untuk itu diperlukan adanya analisis tentang kemacetan lalu-lintas sebanyak-banyaknya, dengan harapan dapat menghasilkan solusi yang terbaik bagi semua.
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Kota Surabaya, Kota malang merupakan kota pelajar dengan banyaknya berdiri perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Oleh karena itu kemacetan lalu lintas banyak terjadi di kota malang.

Kota Malang

Kota Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, dan dikenal dengan julukan kota pelajar.            Jumlah penduduk Kota Malang 820.243 (2010), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun. Terletak pada ketinggian antara 429 - 667 meter diatas permukaan air laut. 112,06° - 112,07° Bujur Timur dan 7,06° - 8,02° Lintang Selatan, dengan dikelilingi gunung-gunung.  (Wikipedia 2014)
Perkembangan Kota Malang
Pertumbuhan dan perkembangan di Kota Malang dilatarbelakangi oleh berbagai aspek kehidupan seperti perkembangan Penduduk, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dinamika kegiatan ekonomi, perkembangan/perluasan jaringan komunikasi-transportasi dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut akan membawa perubahan terhadap bentuk keruangan di wilayah yang bersangkutan, baik secara fisik maupun non fisik, sebagai wadah kegiatan manusia di dalamnya. Perubahan tersebut apabila tidak ditata dengan baik akan mengakibatkan perkembangan yang tidak terarah dan penurunan kualitas pemanfaatan ruang.
Bentuk Kota Malang pada dasarnya dipengaruhi oleh proses perkembangan kota itu sendiri. Pada awal perkembangannya, ketika Belanda mulai menguasai Malang, bentuk kota mulai berubah menjadi grid seperti yang banyak terdapat di negara-negara Eropa. Pada masa ini perkembangan kota cenderung berpola memusat di pusat kota, yaitu sekitar alun-alun.
Setelah pusat kota penuh, kemudian pada kurun waktu antara tahun 1938-1954 perkembangan kota cenderung mengikuti jalur jalan yang aksesnya tinggi sehingga bentuk kota cenderung linier mengikuti jaringan jalan ke arah utara, barat maupun selatan, terutama ke arah utara kota karena merupakan jalan masuk utama kota Malang dari Surabaya. Jadi, pola perkembangan kota Malang dari tahun 1767 sampai tahun 1960 berbentuk radial konsentris.
Selanjutnya, dalam kurun tahun 1954 sampai sekarang, setelah sepanjang jalan utama kota terisi penuh, perkembangan kota menyimpang ke wilayah kosong di seluruh kota, terutama di utara. Secara umum, pola perkembangan Kota Malang dapat dikatakan menyebar dengan kecenderungan perkembangan radial konsentris dimana pada awalnya sebagian besar kegiatan terutama perdagangan dan jasa terkonsentrasi di dalam satu kawasan, yaitu pusat kota dan kemudian menyebar pada sub-sub pusat kotanya.
Dari perkembangan yang cenderung mencari lahan kosong inilah, muncul pola pergerakan tata ruang menuju sub pusat pengembangan seperti ke wilayah Singosari, Kepanjen, Lawang, Tumpang, Jabung, Wajak, Wagir, dan Dau. Untuk pengembangan wilayah lainnya juga berdasarkan kebutuhan ruang yang lebih luas lagi sehingga melihat sub-sub pusat lainnya.
Daerah-daerah transisi ini memiliki potensi yang sangat besar dalam perkembangannya. Selain sebagai sub pusat, juga berfungsi sebagai pusat pelayanan dan meningkatnya jumlah fasilitas pelayanan yang akan dibutuhkan. (Erijanto Tanpa tahun)


Kemacetan di Kota Malang

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk. (Wikipedia 2013)
Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di kota malang berpotensi memunculkan masalah kemacetan yang luar biasa dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini, beberapa ruas jalan di kota malang kerap terjadi kemacetan dan antisipasi pelebaran tampaknya sulit untuk dilakukan.
Sebagai salah satu kota pendidikan dan kota wisata di Jawa Timur, Kota Malang pada tahun 2015 mendatang, diprediksi akan terancam terjadi kemacetan total. Prediksi tersebut dilihat dari kinerja Pemkot yang sampai kini belum ada upaya perencanaan pembuatan jaringan jalan untuk tahun 2010-2030. (Kangnarada, 2011)
Beberapa ruas jalan yang kerap dilanda kemacetan panjang dana lama sering terjadi di pertigaan lampu merah Jalan Dinoyo, perempatan lampu merah ITN dan pertigaan jembatan Soekarno Hatta. (JurnalBerita 2011)
 kepadatan arus lalu lintas di sepanjang MT. Haryono dan Jl. Gajayana mulai menunjukkan perkembangan yang semakin menghawatirkan. Di jam-jam biasa, yakni diluar pukul enam pagi atau empat sore sampai maghrib, kecepatan kendaraan hanya mampu digeber sampai dengan 40 km perjam. Sementara pada jam-jam sibuk, praktis kendaraan hanya bisa berjalan merambat. Jalan mulai lengang saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. . (JurnalBerita 2011)
Disisi lain, lanjut Erwin, pertumbuhan kendaraan bermotor di kota Malang cukup tinggi, yaitu sekitar 10 persen. Meningkatnya jumlah kendaraan tersebut, hingga minggu ini sebanyak 11 ribu, yang terdiri dari 900 kendaraan roda dua dan 200 kendaraan roda empat. “Bertambahnya jumlah kendaraan ini tidak diimbangi oleh pertambahan jalan yang memadai, sehingga wajar jika terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan yang ada di Kota Malang,” paparnya. (Mediacenter. 2013)
Tabel Volume Kendaraan di beberapa titik di Kota Malang
no
lokasi
jenis kendaraan
jumlah kendaraan
Volume kendaraan
1
jl.Soekarno Hatta
motor
54,6 %
4802 smp/jam

mobil pribadi
44,2 %
3887 smp/jam

truk
0,1 %
10 smp/jam

bus
0,03 %
 2 smp/jam
MPU
0,8 %
71 smp/jam
sepeda
0,1 %
12 smp/jam
becak
0.03 %
3 smp/jam
2
jl.MT.Haryono
motor
62,3 %
3811 smp/jam

mobil pribadi
35,4 %
2165 smp/jam

truk
0,1 %
8 smp/jam
bus
0,03 %
2 smp/jam
MPU
1,9 %
116 smp/jam
sepeda
0,07 %
5 smp/jam
becak
0,1 %
7 smp/jam
3
jl. Simpang 3 borobudur
motor
55,4 %
3025 smp/jam

mobil pribadi
40,9 %,
2335 smp/jam
truk
0,1 %
7 smp/jam
bus
0,02 %,
1 smp/jam
MPU
3,3 %,
190 smp/jam
sepeda
0,08 %,
5 smp/jam,
becak
0,09 %.
5 smp/jam
4
jl.LA.Sucipto
motor
47,7 %,
1584 smp/jam

mobil pribadi
46,8 %,
1557 smp/jam
truk
0,3 %,
10 smp/jam
bus
0,06 %,
2 smp/jam
MPU
4,8 %,
161 smp/jam
sepeda
0,1 %,
5 smp/jam
becak
0,2 %.
6 smp/jam
5
jl.Gatot Subroto
motor
53,2 %,
2342 smp/jam

mobil pribadi
42,1 %,
1853 smp/jam
truk
0,7 %,
32 smp/jam
bus
0,2 %
11 smp/jam
MPU
3,2 %
142 smp/jam

sepeda
0,1 %
 6 smp/jam
Becak
0.2 %
9        smp/jam
Sumber: http://teknik.ub.ac.id/hasil-diskusi-publik-tata-kota-malang-di-ft-ub-1/
Dari tabel di atas dapat terlihat jelas bahwasanya penyebab kemacetan yang besar di semua ruas jalan adalah motor dan mobil pribadi. Motor dan mobil pribadi penyumbang terbesar kemacetan di Kota Malang karena motor dan mobil selalu bertambah setiap harinya.
Penyebab Kemacetam:
1.     Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan
2.     Terjadi kecelakaan terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas,
3.     Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan.
4.     Ada perbaikan jalan,
5.     Bagian jalan tertentu yang longsor,
6.     Kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami.
7.     Karena adanya pemakai jalan yang tidak tahu aturan lalu lintas, spt : berjalan lambat di lajur kanan dsb.
8.     Adanya parkir liar dari sebuah kegiatan.
9.     Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.
10.  Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas
11.  Adanya tawuran antarpelajar yang menyebabkan kurang lancarnya lalu lintas
12.  Banyak orang yang menyebrang di jalan tersebut
13.  Walaupun di jalan satu arah, masih ada pengendara yang nyelonong dari arah yang terlarang / berlawanan.
Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain disebabkan:
1.     Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah
2.     Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah,
3.     Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi,
4.     Meningkatkan polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal,
5.     Meningkatkan stress pengguna jalan,
6.     Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya
Mengatasi Kemacetan di Kota Malang
Kemacetan menjadi perhatian serius pemerintahan. Usai menerapkan kebijakan jalur satu arah di Jalan Mayjen Panjaitan, Jalan Gajayana, dan Jalan MT Haryono, tahun 2014 mendatang pemkot bakal membuka tiga jalur alternatif. Yakni Jalan Sudimoro menuju kawasan Institut Teknologi Nasional Malang (ITN) 2 di Jalan Perusahaan Karanglo, pelebaran jembatan Tunggulwulung ke arah Jalan Tlogomas, dan pembangunan pintu keluar (interchange) tol Pandaan–Malang di Kelurahan Cemorokandang, Kedungkandang. Sehingga, pengguna jalan dari Surabaya, tak lagi harus melewati jalur utama di Kota Malang. Akan ada jalur-jalur alternatifnya. Pembukaan tiga jalur alternatif itu sudah dikoordinasikan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. (Radar Malang 2013)

Pembukaan tiga jalur alternatif tersebut guna mengurai kemacetan. Jalur alternatif Sudimoro menuju kawasan ITN 2 misalnya, mengurangi kemacetan di Jalan Borobudur, Jalan A. Yani, dan Jalan Balearjosari. Sebab, pengendara dari arah Surabaya yang ingin ke kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Jalan MT Haryono, dan Jalan Raya Tlogomas, bisa melintasi Karanglo, ITN, dan tembus di Jalan Soekarno-Hatta. Sedangkan jalur alternatif Tunggulwulung menuju jalan Tlogomas mengurangi kemacetan di Jalan Soekarno-Hatta dan jalan MT Haryono. Pengendara dari Jalan Soehat bisa melintasi Jalan Candi Panggung menuju Tunggulwulung dan menembus Jalan Tlogomas.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Malang Subari membenarkan adanya perencanaan pembukaan tiga jalur alternatif itu. Subari juga yakin, pembukaan tiga jalur akan mengurangi kemacetan (Radar Malang 2013)
Secara umum kemacetan lalu lintas dapat diatasi dengan beberapa solusi, diantara lain:
a.       Peningkatan kapasitas
1.      Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan,
2.      Mengubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah,
3.      Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.
4.      Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover,
5.      Mengembangkan inteligent transport sistem.
6.      Memberikan Sanksi Jika Ada Yang Melanggar

b.      Keberpihakan kepada angkutan umum

1.      Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum
2.      Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus angkutan kota,
3.      Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum,

c.       Pembatasan kendaraan pribadi

1.      Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya,
2.      Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
3.      Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu,.
Simpulan
            Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di kota malang berpotensi memunculkan masalah kemacetan yang luar biasa dalam beberapa tahun mendatang. Ada beberapa faktor penyebab kemacetan, dari jalan yang kurang lebar sampai parker liar di jalan. Dari data yang kami peroleh sepeda motor dan mobil pribadi mendominasi jalanan di kota Malang dan dimungkinkan merupakan faktor penyumbang terbesar kemacetan kota Malang.



Daftar Rujukan
Wikipedia. 2014. Kota Malang. (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Malang, diakses tanggal 17 April 2014).
Wikipedia. 2013. Kemacetan (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Kemacetan, diakses tanggal 17 April 2014).
Kangnarada. 2011. Kemacetan di Kota Malang, Dimana-mana dan kemana-mana. (Online), (http://kangnarada.wordpress.com/2011/10/08/kemacetan-di-kota-malang/, diakses tanggal 18 April 2014).
JurnalBerita. 2011. Kemacetan di Kota Malang Perlu Penanganan Serius. (Online), (http://jurnalberita.com/2011/03/kemacetan-di-kota-malang-perlu-penanganan-serius/, diakses tanggal 18 April 2014).
Media Center. 2013. Peningkatan Kendaraan Picu Kemacetan. (Online), (http://mediacenter.malangkota.go.id/2013/07/peningkatan-jumlah-kendaraan-picu-kemacetan/, diakses tanggal 18 April 2014).
Radar Malang. 2013. Upaya Urai Kemacetan Parah di Kota Malang. (Online), (http://radarmalang.co.id/upaya-urai-kemacetan-parah-di-tengah-kota-malang-1062.htm, diakses tanggal 18 April 2014).
Erijanto. Tanpa Tahun. Tata Ruang Kota Malang. Pdf
Teknik UB. 2013. Hasil Diskusi Publik Tata Ruang Kota Malang. (Online), (http://teknik.ub.ac.id/hasil-diskusi-publik-tata-kota-malang-di-ft-ub-1/, diakses tanggal 18 April 2014).







Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment