Wednesday, 7 May 2014

Bagaimana Perbedaan Anak Krakatau dan "Anak Samalas"?

Sementara banyak hal telah diketahui tentang Anak Krakatau, tak banyak yang terungkap dari Barujari, si "Anak Samalas".

Anak selalu memiliki kesamaan karakteristik dengan ibunya. Namun, bagaimana dengan anak gunung? Apakah selalu demikian?

Bila bicara tentang Anak Krakatau, Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMGB), mengungkapkan bahwa anak dari gunung yang pernah meletus dahsyat tahun 1883 tersebut memiliki kesamaan karakteristik dengan ibunya.

Dari sisi kandungan magmanya, Anak Krakatau dan Krakatau sama-sama didominasi oleh silika. Kandungan silika yang besar terkait dengan letusan yang besar.

Letusan Krakatau mematikan. Akibat letusannya, dunia sempat gelap selama dua hari karena tertutup oleh abu vulkanik. Sementara letusan memicu tsunami yang tercatat menewaskan 36.000 orang.

Dengan magma yang juga kaya silika, Anak Krakatau di masa depan juga berpotensi meletus dahsyat.

Keaktifan Anak Krakatau sudah tak bisa diragukan. Gempa vulkanik akibat Anak Krakatau dalam sebulan bisa mencapai ribuan kali. Salah satu letusan Anak Krakatau terjadi pada September 2012.

Letusan itu, menurut vulkanolog Jerman, Edward Gramsch, merupakan tipe vulkanian, ditandai dengan erupsi lava pijar yang disertai lontaran abu vulkanik membubung tinggi ke angkasa.

Sementara banyak hal telah diketahui tentang Anak Krakatau, tak banyak yang terungkap dari Barujari, si "Anak Samalas".

Gunung Samalas dahulu terletak berdekatan dengan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Diperkirakan pada tahun 1257, gunung tersebut meletus. Letusan membentuk kaldera berupa danau Segara Anak. Dari danau tersebut, Barujari alias "Anak Samalas" kini menyeruak.

Meski demikian, Surono mengatakan bahwa dalam jangka waktu dekat, Barujari tak bisa dibilang ancaman.

Salah satu yang dipakai Surono sebagai parameter untuk letusan besar adalah ukuran kantung magma. Besarnya kantung magma di antaranya bisa dilihat dari ketinggian gunung dan kecepatan pertumbuhannya.

"Anak Krakatau tumbuh cepat. Setelah Krakatau meletus tahun 1883, Anak Krakatau sudah lahir tahun 1930," kata Surono.

Anak Krakatau sudah mencapai ketinggian 305 meter. Ketinggian tersebut bisa menjadi cerminan kantung magma yang besar serta keaktifan gunung.

"Samalas kalau meletus pada abad ke-13, maka sekarang sudah 700 tahun lebih. Barujari belum sebesar Anak Krakatau. Jadi, kemungkinan kantung magmanya tidak besar," kata Surono.

Namun, Surono mengatakan, Barujari seperti halnya Anak Krakatau akan tumbuh terus. Seiring pertumbuhannya, bukan tidak mungkin Barujari bisa menjadi ancaman di masa depan. Kesimpulan Barujari tak akan menyebabkan bencana belum bisa ditarik karena banyak hal masih misteri.

"Saat ini, kita akan terus melakukan penelitian tentang Samalas dan perilakunya di masa lalu," ujar Surono.

Ia mengatakan, masa kini adalah kunci untuk memahami apa yang terjadi di masa lalu. Namun, masa kini juga yang menjadi kunci untuk memahami masa depan. "Penelitian tentang Samalas penting untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan," katanya.
(Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com)
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/bagaimana-perbedaan-anak-krakatau-dan-anak-samalas

Reactions:
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment