HIDROSFER

Lapisan Air yang Ada di Permukaan Bumi.

ATMOSFER

Lapisan yang Melingkupi Sebuah Planet dari Permukaan Planet Tersebut Sampai Jauh di Luar Angkasa.

ANTROPOSFER

Manusia Merupakan Tema Sentral Diantara Sfera-sfera.

LITOSFER

Bagian Terluar dari Planet Berbatu.

BIOSFER

Sistem Ekologis Global yang Menyatukan Seluruh Makhluk Hidup dan Hubungan antar Mereka.

Saturday, 16 August 2014

PRAKTIKUM ELECTROCODUCTIVITY METER


1.      Tujuan
Adapun Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut
1.1. Agar mahasiswa mampu memeriksa kemampuan sampel air sungai untuk menghantarkan arus listrik (electroconductivity)
1.2. Menunjukkan bahwa bagaiman air menghantarkan arus listrik. Jika pencemaran semakin tinggi, maka elektroconductivity-nya semakin tinggi.
2.      Alat dan bahan
2.1.Sampel air sungai
2.2.Water quality checker
2.3.Gelas beker
2.4.Alat tulis lengkap

3.      Dasar Teori

Daya hantar listrik (DHL) merupakan kemampuan suatu cairan untuk menghantarkan arus listrik (disebut juga konduktivitas). DHL pada air merupakan ekspresi numerik yang menunjukkan kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan arus listrik. Oleh karena itu, semakin banyak garam-garam terlarut yang dapat terionisasi, semakin tinggi pula nilai DHL. Besarnya nilai DHL bergantung kepada kehadiran ion-ion anorganik, valensi, suhu, serta konsentrasi total maupun relatifnya.
Konduktivitas dinyatakan dengan satuan p mhos/cm atau p Siemens/cm. Dalam analisa air, satuan yang biasa digunakan adalah µmhos/cm. Air suling (aquades) memiliki nilai DHL sekitar 1 µmhos/cm, sedangkan perairan alami sekitar 20 – 1500 µmhos/cm (Boyd, 1988 dalam Effendi, 2003).
Besarnya daya hantar listrik bergantung pada kandungan ion anorganik (TDS) yang disebut juga materi tersuspensi. Hubungan antara TDS dan DHL dinyatakan dalam persamaan (2.1) (Metcalf & Eddy : 1991 dalam Effendi, 2003).
Nilai TDS biasanya lebih kecil daripada nilai DHL. Pada penentuan nilai TDS, bahan-bahan yang mudah menguap (volatile) tidak terukur karena melibatkan proses pemanasan.
Pengukuran DHL dilakukan menggunakan konduktivitimeter dengan satuan µmhos/cm. Prinsip kerja alat ini adalah banyaknya ion yang terlarut dalam contoh air berbanding lurus dengan daya hantar listrik. Batas waktu maksimum pengukuran yang direkomendasikan adalah 28 hari.
Menurut APHA, AWWA (1992) dalam Effendi (2003) diketahui bahwa pengukuran DHL berguna dalam hal sebagai berikut :
1)      Menetapkan tingkat mineralisasi dan derajat disosiasi dari air destilasi.
2)      Memperkirakan efek total dari konsentrasi ion.
3)      Mengevaluasi pengolahan yang cocok dengan kondisi mineral air.
4)      Memperkirakan jumlah zat padat terlarut dalam air.
5)      Menentukan air layak dikonsumsi atau tidak.
                                                                                                                                
Jadi,penggunan DHL sebagai parameter kuaitas air bertujuan untuk mengukur kemampuan ion-ion dalam air untuk menghantarkan listrik serta memprediksi kandungan mineral dalam air. Pengukuran yang dilakukan berdasarkan kemampuan kation dan anion untuk menghantarkan arus listrik yang dialirkan dalam contoh air dapat dijadikan indikator, dimana semakin besar nilai daya hantar listrik yang ditunjukkan pada konduktivitimeter berarti semakin besar kemampuan kation dan anion yang terdapat dalam contoh air untuk menghantarkan arus listrik. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak mineral yang terkandung dalam air.








4.      Cara kerja
Adapun langkah kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut
1.      Siapkan sampel air sungai
2.      Kocok dulu sampel air di dalam botol, lalu tuangkan dalam wadah tester water quality checker sampai batas wadah(ditunjukan dengan garis hitam)
3.      Hidupkan water quality checker, setting mode pada AUTO, dan setting select pada COND, lalu catat hasil pembacaan pada display.
4.      Masukan sampel kembali ke botol untuk praktikum selanjutnya.
5.      Hasil praktikum
Hasil bacaan EC meter            = 0,241 milisiemens per centimeter (mS/cm)
                                                = 241 mikromhos
Suhu                                        =24,5 0C



6.      Pembahasan

Electroconductivity (EC) merupakan kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan listrik. Harga Conduktivitas dapat dipengaruhi oleh adannya ion, jenis ion, konsentrasi, muatan, tahanan yang pekat dan temperatur. Pada saat pengukuran EC, Zat yang terlarut dalam sampel terionisasi menjadi muatan positif dan negatif. Ion positif dan negatif ini menghantarkan arus listrik dari elektroda positif ke elektroda negatif pada sensor COND yang terdapat di water quality checker.  Jika semakin banyak zat yang terlarut, maka ion positif dan negatif juga terdapat dalam jumlah banyak. Sehingga larutan tersebut memiliki konduktivitas yang tinggi.
Dalam praktikum kali ini didapatkan hasil EC meter 0,241 milisiemens per centimeter (mS/cm) atau 241 mikromhos pada sampel yang diukur. Nilai ini berarti Daya Hantar Listrik (DHL) smenunjukan angka yang sedang dan masih cukup baik untuk kualitas air sungai, akan tetapi dengan hasil yang demikian yakni 241 mikromhos air tidak layak untuk konsumsi, karena air yang layak untuk konsumsi menunjukan angka EC sebesar 25 – 150 mikrohos.

Suhu dibutuhkan untuk menentukan tingkat kejenuhan oksigen terlarut dalam air. Untuk  mengukur DO tanpa mengetahui suhu airnya maka kurang berguna, karena kekurangan  oksigen yaitu dari perbedaan tingkat kejenuhan dan DO terukur tidak dapat ditentukan karena suhu air tidak diketahui. Dalam praktikum ini diperoleh suhu 24,5°c yang artinya suhu sendiri relatif normal dan bias organisme masih bias hidup.